Butuh Dana Istimewa Rp55 Miliar untuk Akhiri Polemik Becak Kayuh

Kuntadi ยท Jumat, 07 Desember 2018 - 15:01 WIB
Butuh Dana Istimewa Rp55 Miliar untuk Akhiri Polemik Becak Kayuh

Prototipe becak listrik. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

YOGYAKARTA, iNews.id – Paguyuban Pengemudi dan pengayuh becak yang ada di Yogyakarta berharap ada kucuran dana keistimewaan untuk menyelesaikan polemik becak kayuh dan becak motor (betor). Ini menyusul berkembangnya becak motor yang tidak pernah mendapatkan legalitas dari pemerintah. Anggaran itu sangat diperlukan untuk membuat becak listrik yang dikenal dengan becak istilah hybrid.

Pembina tukang becak DIY, Brotoseno mengatakan, becak motor terpaksa dikembangkan karena kebanyakan pengemudi becak sudah berusia tua. Mereka tidak mampu lagi mengayuh becak untuk mengangkut penumpang. Mereka pun melakukan inovasi dengan memodivikasi sepeda motor dengan becak atau dikenal dengan betor.

Hanya saja, kemunculan betor justru menjadi permasalahan. Dari sisi legalitas, betor tidak direkomendasikan sebagai salah satu kendaraan motor. Sehingga dalam aktivitasnya banyak pengemudi yang ditangkap dan terjaring razia polisi.

“Betor juga tidak masuk dalam salah satu jenis kendaran tradisional yang diakomodir dalam perda angkutan tradisional,” ujarnya dalam diskusi dengan forum wartawan DPRD DIY “Solusi Permasalahan Becak Kayuh dan Motor di DIY” di lobi DPRD DIY, Jumat (7/12/2018).

Atas permasalahan ini, Brotoseno bersama dengan komunitas becak mencoba mendesain becak hybrid. Becak ini menggunakan listrik dengan bahan dari accu yang bisa diisi ulang. Kecepatannya bisa mencapai 50 kilometer per jam. Becak ini juga bisa dikayuh layaknya becak kayuh seperti yang ada saat ini.

Prototipe becak hybrid ini telah dibuat dan menghabiskan dana Rp15 juta. Namun ketika produksi banyak atau massal, ongkos produksi bisa diturunkan hingga Rp10 juta. “Artinya untuk menggantikan 5.500 becak yang ada di DIY, butuh anggaran senilai Rp55 miliar. Kebutuhan dana ini bisa dialokasikan dari dana keistimewaan (danais) DIY yang nilainya mencapai Rp1,2 triliun. Selama ini (danais) hanya untuk misi budaya, bregodo, atau jalan,” ucapnya.  

Kabid Angkutan Darat Dishub DIY, Hari Agus Triyono mengatakan, magnet becak ini untuk wisatawan. Becak menjadi salah satu kendaraan kearifan lokal namun butuh solusi agar becak lebih manusiawi dan bermartabat. “Kita tidak bisa tutup mata, butuh sentuhan teknologi,”ujarnya.  

Sementara itu Wakil Ketua DPRD DIY, Dharma Setiawan mengatakan, ojek online merupakan salah bentuk pelanggaran massal undang-undang angkutan namun disambut maysarakat. “Dalam kesulitan mereka akan menggunakan jasa ojek online. Hak inilah yang memicu lahirnya inovasi dalam becak motor, yang terus menuai kontroversi. Saya rasa becak listrik menjadi solusi di samping lebih ramah lingkungan,” ucapnya.

Politisi Partai Gerindra ini akan mengusulkan pembentukan pansus untuk mereview bagaimana penerapan angkutan manusia di DIY. Termasuk bagaimana penerapan becak kayuh, betor dan mode transportasi lain. “Hasil pengawasan ini akan kita pakai untuk perbaikan perda,” katanya.


Editor : Himas Puspito Putra