Demo UGM Darurat Kekerasan Seksual, Rektor Didesak Pecat Pemerkosa

Heru Trijoko · Kamis, 08 November 2018 - 17:16 WIB
Demo UGM Darurat Kekerasan Seksual, Rektor Didesak Pecat Pemerkosa

Mahasiswa UGM menggelar aksi bertajuk “UGM Darurat Kekerasan Seksual” sebagai keprihatinan atas kasus pemerkosaan mahasiswi UGM saat KKN, Kamis (8/11/2018). (Foto: iNews/Heru Trijoko)

YOGYAKARTA, iNews.id – Ratusan mahasiswa menggelar aksi bertajuk “UGM Darurat Kekerasan Seksual” di halaman Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kamis (8/11/2018). Aksi tersebut sebagai bentuk keprihatinan atas kasus dugaan pemerkosaan mahasiswi UGM oleh temannya sendiri saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada pertengahan 2017 lalu di Pulau Seram Maluku.

Aksi ini ditandai dengan membunyikan kentongan dan meniup peluit secara beramai-ramai. Hal itu dilakukan sebagai simbol tanda bahaya bagi para mahasiswi UGM Yogya yang rentan menjadi korban kasus serupa.

Dalam aksinya, mahasiswa mendesak agar pihak rektorat kampus tidak menutup mata atas kasus dugaan pemerkosaan seorang mahasiswi Fisipol UGM dengan nama samaran Agni. Pelakunya diduga temannya sendiri, HS, mahasiswa Fakultas Teknik UGM. Mahasiswa yang berdemonstrasi mendesak rektor segera menjatuhkan sanksi berupa pemecatan dan pembatalan wisuda pelaku yang rencananya dilaksanakan pada November 2018 ini. Selain itu, mengusut kasus tersebut secara hukum.

Ratusan mahasiswa UGM juga menggelar penggalangan petisi dengan membubuhkan nama, nomor induk mahasiswa, dan tanda tangan. Petisi berisi tuntutan gerakan tagar “Kita Agni” kepada pihak kampus. Tanda tangan tersebut sebagai bukti mereka mendukung Agni dalam mencari keadilan. Agni adalah nama samaran yang dipakai dalam artikel yang ditulis oleh Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa Balairung (BPPM) UGM.

BACA JUGA:

Mahasiswi UGM Jadi Korban Perkosaan Temannya saat KKN di Maluku

Kasus Perkosaan Mahasiswi saat KKN, UGM Siap Bantu dan Kawal Korban

Mahasiswi Fisipol UGM Korban Pelecehan Seksual Alami Depresi Berat

Narahubung korban Agni, Natasya saat berorasi mengatakan, korban sudah berupaya untuk mendapat perlindungan dan keadilan atas kasus pemerkosaan yang menimpanya. Namun, hingga kini belum ada upaya konkret dari UGM untuk memberikan keadilan pada Agni.

“Alih-alih komitmen pada keadilan, UGM justru abai. Telinga pejabat mungkin tersumpal mampet dengan ambisi nama baik kampus hingga tak lagi bisa mendengar jerit sakit Agni,” papar Natasya.

Natasya mengatakan, meskipun sudah menjadi korban, Agni justru mendapat hinaan dan caci maki. Akibatnya, Agni kini trauma. Sejak peristiwa mengerikan itu, dia harus berjibaku dengan diri sendiri untuk meyakinkan bahwa dia tidak bersalah. Dia pun harus menghadapi cemoohan dan sindiran akibat peristiwa itu.

“Trauma penyintas kekerasan seksual dibawa seumur hidup. Kamu tahu, dirundung rasa bersalah atas hal yang di luar kendalimu, dihina, dicaci maki, diancam pelaku. Sementara pelaku sebentar lagi melenggang bebas menuju mimbar wisuda, bekerja dan dengan mudah melupakan segalanya,” paparnya.


BACA JUGA: Polda DIY Tunggu Laporan Kasus Pelecehan Seksual Mahasiswi UGM


Natasya pun mengingatkan, kasus ini bisa menimpa Agni Agni yang lain, khususnya di UGM. Tak satupun perempuan luput dari bahaya pemerkosaan jika UGM tidak menjalankan langkah konkret untuk mencegah dan menindak asus kekerasan seksual.

“Kami lelah dengan logika seksis pejabat UGM. Kami lelah dengan birokrasi yang ga ramah terhadap penyintas kekerasan seksual. Kami lelah merasa tidak aman di kampus kami sendiri. Kami tidak ingin jadi mangsa predator seksual, diperkosa dan dilecehkan,” paparnya. 

Kasus pemerkosaan ini mencuat ke publik setelah BPPM Balairung UGM memberitakannya lewat sebuah artikel berjudul “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan”. Dalam artikel itu, Balairung mengkritik keras langkah dan sikap UGM dalam menyelesaikan kasus ini.


Editor : Maria Christina