Dipercaya Bawa Berkah, Ratusan Warga Berebut Air Sisa Jamasan Kereta

Heru Trijoko, Kuntadi ยท Rabu, 03 Oktober 2018 - 03:18 WIB
Dipercaya Bawa Berkah, Ratusan Warga Berebut Air Sisa Jamasan Kereta

Sejumlah abdi dalem melakukan jamasan kereta milik Keraton Yogyakarta. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

YOGYAKARTA, iNews.id – Ratusan warga berebut sisa air jamasan kereta pusaka di Museum Kereta Keraton Rotowijayan, Selasa (2/10/2018). Warga percaya air tersebut akan membawa berkah dan sebagai tolak bala. Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap Bulan Muharam ini selalui diikuti antusias warga untuk mengambil sisa air.

Jamasan pusaka kereta ini dilaksanakan setiap tahun pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon sesuai penanggalan Jawa. Ada dua kereta selalu dijamas (dicuci) setiap tahunnya. Salah satunya adalah Kereta Nyai Jimat yang wajib dijamas setiap tahun. Kereta ini dibuat pada 1750 untuk kendaraan Sultan Hamengkubuwono (HB) III.

Tahun ini, satu kereta lagi merupakan Kereta Kyai Harsunaba yang merupakan kereta pendamping. Kereta ini digunakan oleh Sultan Hamengkubuwono VIII pada tahun 1850-1860. Dulu kereta ini ditarik oleh enam ekor kuda.

Tradisi jamasan kereta ini dilakukan oleh para abdi dalem setelah sebelumnya dilakukan mujadahan. Jamasan menggunakan air yang dicampur dengan jeruk nipis, dicampur dengan minyak cendana dan bunga setaman.  “Jamasan ini untuk membersihkan dan merawat kereta pusaka,” kata abdi dalem, Wedono Notodiwiryo di sela-sela jamasan pusaka, Selasa (2/10/2018).



Hampir sama, setiap tahun, tradisi jamasan pusaka ini selalu dibanjiri pengunjung. Tidak hanya melihat proses jamasan, namun banyak yang berusaha ngalap berkah. Mereka saling berebut untuk mendapatkan air sisa dari jamasan. Ada yang mengambil dengan botol, gayung hingga ember.

Air ini kemudian dipakai warga untuk mencuci muka, tangan dan ada yang dibawa pulang. Mereka percaya air ini akan mendapatkan berkah.  “Ini buat cuci muka biar segar, awet muda dan rejeki lancar,” ucap seorang warga, Sucipto.

Lain lagi dengan penuturan Harjo Pawiro. Dia percaya air yang diperoleh akan membawa ketentraman. Sehingga, dia memilih membawa pulang air ini untuk disimpan di rumah. Biasanya air tersebut untuk anaknya yang sakit panas.

Namun tidak sedikit yang membawa air ini ke sawah untuk disiramkan ke tanaman padi atau palawija. Tujuannya agar lahan pertanian menjadi lebih subur dan hasil panenan lebih melimpah. “Setiap tahun, saya selalu ke sini untuk ngalap berkah,” kata warga Patangpuluhan, Yogyakarta itu.


Editor : Kastolani Marzuki