FKPT Sebut Kampus di Yogya Mulai Disusupi Paham Radikalisme dan Ekstremisme

Kuntadi ยท Jumat, 10 Mei 2019 - 01:10 WIB
FKPT Sebut Kampus di Yogya Mulai Disusupi Paham Radikalisme dan Ekstremisme

Inspektur BNPT Amrizal memaparkan bahaya radikalisme dan upaya pencegahan terorisme dan radikalisme sejak dini kepada para guru agama di Yogyakarta. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

YOGYAKARTA, iNews.id – Provinsi DIY termasuk salah satu daerah yang rawan dengan penyebaran ajaran-ajaran yang mengarah pada ekstremisme, radikalisme maupun fundamentalisme. Paham-paham tersebut dinilai bisa mengarah pada aksi terorisme.

Kepala Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DIY, Mukhtasar Syamsudin mengatakan FKPT telah melakukan pemetaan kerawanan di Yogyakarta dengan narasi ekstremisme, radikalisme maupun fundamentalisme. Hasilnya, paham ekstremisme sudah mulai masuk di kampus-kampus dengan adanya sifat eksklusif dari kelompok mahasiswa.

“Di Sleman itu sudah ada wacana Daulah Islamiyah, yang menginginkan syariat Islam dikenalkan kepada masyarakat,” kata Mukhtasyar dalam kegiatan Integrasi Nilai-nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam menumbuhkan kebangsaan yang digelar FKPT DIY, di Yogyakarta, Kamis (9/5/2019).

BACA JUGA: Cegah Paham Radikalisme Sejak Dini, BNPT Libatkan Peran Guru PAUD dan TK 

Dia menyebutkan, survei itu dilakukan dengan melalui angket dan kuisioner di masyarakat. Sampelnya menggunakan semua elemen masyarakat secara random di lima kabupaten/kota yang ada di DIY.

Sedangkan paham radikalisme justru muncul dan tertinggi berada di Kabupaten Kulonprogo, yang jauh dari hiruk pikuk kota. Hal ini tidak lepas dari adanya organisasi HTI, FPI dan organisasi lain yang memiliki paham cukup radikalisme.

Selain itu, ada juga mahasiswa yang berada di sana dan melakukan pergerakan untuk mengajarkan paham radikalisme. Kabupaten Bantul juga rawan dengan pluralisme, banyaknya pelajar dan mahasiswa. 

Menurut Mukhtasyar, paham radikalisme, sebenarnya tidak hanya bersinggungan dengan umat Islam saja. Di agama lain juga ada ajaran radikalisme. Kebetulan saja umat Islam menjadi agama mayoritas yang menjadikan kesan itu semakin menguat. “Non-Islam dengan fundamentalisme yang cukup radkal juga ada,” ucapnya.  

Untuk itulah, kata Mukhtasyar, perlu adanya penanaman akidah beriman kepada anak-anak sejak dini. Mereka harus diajari untuk bisa menerima perbedaan dan menghormati orang lain ibadah sesuai agama lain. 

 


Editor : Kastolani Marzuki