Gandeng UGM, Kulonprogo Targetkan 2030 Bebas Stunting

Kuntadi ยท Sabtu, 14 September 2019 - 02:02 WIB
Gandeng UGM, Kulonprogo Targetkan 2030 Bebas Stunting

Asisten I Setda Kulonprogo Jumanto saat kegiatan membahas bebas stunting 2030. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo menargetkan tahun 2030 tidak ada lagi kasus anak stunting (zero stunting). Dalam pencegahannya, saat ini telah dibentuk kelompok kerja (pokja) untuk penanganan masalah stunting sampai di tingkat desa. Di mana dalam actionnya, pemkab bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Pokja ini sudah dimulai dari tingkat kabupaten dan akan terus sampai ke kecamatan dan desa,” ujar Asisten I Setda Kulonprogo Jumanto, Jumat (13/9/2019).  

Menurutnya, Pemkab Kulonprogo  telah menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) untuk pencegahan stunting. Mulai dari sosialisasi penanggulangan, pelacakan balita stunting hingga pembentukan Peraturan Bupati (Perbup) Kulonprogo Nomor 37 Tahun 2018 tentang Penanganan Stunting.

“Perbup-nya sudah ada, tetapi masih akan kami revisi agar target 2030 bebas stunting dapat tercapai,” katanya. 

Dia menjelaskan, ada lima pilar utama dalam penanganan stunting. Yakni komitmen dan disiplin pimpinan, serta kampanye nasional dan komunikasi perubahan prilaku.

Selain itu perlu ada konvergensi, koordinasi dan konsolidasi program, baik dari pusat, daerah hingga ke desa. Tidak kalah penting pemberian gizi dan ketahanan pangan, serta pemantauan dan evaluasi.

“Kami juga akan gandeng UGM untuk mendampingi program yang telah dipersiapkan,” ucapnya.   

Tim Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM Toto Sudargo mengatakan, Kulonprogo termasuk wilayah yang sudah melaksanakan tahapan penanganan stunting. Ini bisa dilihat dengan sudah diterbitkannya aturan Perbup tentang stunting pada 2018.

“Komitmen Pejabat di Kulonprogo lebih cepat dan perbup yang ada akan direvisi disesuaikan dengan kebutuhan,” kata Toto.

Menurutnya, salah satu langkah yang harus dilakukan yakni dengan memaksimalkan keberadaan pokja. Pokja ini sangat diperlukan untuk mendukung program-progam yang telah disiapkan.

Kegiatan pendampingan pembentukan pokja rencananya akan ditempatkan di wilayah lokus stunting. Yakni Desa Karangsari dan Sendangsari di Kecamatan Pengasih, kemudia Donomulyo di Kecamatan Nanggulan, Nomporejo di Kecamatan Galur, Tuksono di Kecamatan Sentolo. Selain itu juga Desa Kebonharjo, Pagerharjo, Sidoharjo, Gerbosari dan Ngargosari di Kecamatan Samigaluh.

Nantinya, akan ada pendamping di setiap puskesmas. Pendampingan ini penting dalam mengoptimalkan program intervensi dan kegiatan terkait stunting di desa lokus, serta membantu posyandu sasaran. (kuntadi)

 


Editor : Donald Karouw