Hari Pahlawan, Komunitas Jemparingan Gelar Latihan Memanah Tradisional

Kuntadi ยท Minggu, 11 November 2018 - 02:30 WIB
Hari Pahlawan, Komunitas Jemparingan Gelar Latihan Memanah Tradisional

Masyarakat memperingati Hari Pahlawan dengan menggelar latihan bersama memanah tradisional atau jemparingan di Kampung Jemparingan Mataraman, Sabtu (10/11/2018). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id – Banyak cara dilakukan masyarakat untuk memperingati Hari Pahlawan yang jatuh setiap 10 November. Di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masyarakat menggelar latihan bersama memanah tradisional atau dikenal dengan jemparingan.

Gladen atau latihan bersama jemparingan ini diikuti lebih dari 100 orang di Kampung Jemparingan Mataraman, Kecamatan Pengasih. Tidak hanya dari warga sekitar, banyak penggiat jemparingan dari luar kota ikut berlatih di Sasana Jemparingan Langen Progo ini.

Uniknya, mereka mengenakan berbagai pakaian adat, mulai dari adat Jawa, Sunda, Madura hingga dari berbagai daerah lain selama memanah. Latihan bersama ini dilaksanakan bekerja sama dengan Forum Jemparingan Nasional.

Setidaknya ada 17 kelompok jemparingan yang ikut ambil bagian. Seperti dalam kisah perjuangan, para peserta juga mengenakan janur kuning di lengannya sebagai penanda peserta saat memanah.

BACA JUGA: 

Festival Bendi 2018 Ajak Anak Muda Maknai Hari Pahlawan

Sambut Hari Pahlawan, Timses Jokowi Jatim Cangkrukan Bareng Veteran

Seperti pada latihan biasanya, Gladen Jemparingan Hari Pahlawan ini menggunakan sasasaran berupa bandul. Peserta akan diberikan kesempatan untuk membidik sasaran dalam beberapa rambahan atau babak. Setiap pemanah yang mampu menancapkan anak panahnya akan mendapatkan hadiah atau bebungah. 

“Kami kenakan janur kuning sebagai bagian meneladani pahlawan,” ujar Sekjen Jemparingan Nusantara, Joko Mursitno.

Menurut Joko, jemparingan atau panah tradisional ini memiliki kaitan erat dengan sejarah bangsa. Dulunya para pahlawan menggunakan busur dan anak panah seperti saat ini dipakai dalam jemparingan, untuk berperang melawan penjajah.

“Busur dan anak panah menjadi senjata pamungkas untuk melawan penjajah dari Nusantara,” ujarnya.

Joko Mursitno mengatakan, kegiatan itu juga menjadi bagian dari upaya mendukung program pemerintah untuk pengembangan pendidikan karakter budaya kemataraman. 


Editor : Maria Christina