Ini Kata Pakar Geologi UGM soal Fenomena Tanah Bergerak di Sigi-Palu

Kuntadi ยท Rabu, 03 Oktober 2018 - 13:13 WIB
Ini Kata Pakar Geologi UGM soal Fenomena Tanah Bergerak di Sigi-Palu

Ahli Geologi UGM Prof Subagyo Pramumijoyo. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

YOGYAKARTA, iNews.id – Fenomena tanah bergerak atau Likuifaksi yang terjadi usai gempa di Kabupaten Sigi dan Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) menjadi perhatian publik. Bencana mengerikan itu belum banyak diketahui masyarakat padahal memiliki dampak kerusakan yang sangat massif.

Ahli Geologi UGM Prof Subagyo Pramumijoyo mengatakan, fenomena likuifaksi yang terjadi daerah Sigi karena kondisi tanah di wilayah tersebut merupakan tanah berpasir. Saat terjadi gempa, tanah berpasir itu tercampur dengan air di bagian bawah sehingga melarut dan akhirnya menerobos rekahan di permukaan.

“Penjelasan sederhananya, tanahnya itu melarut dengan air di bawah dan menerobos rekahan hingga ke permukaan,” kata Subagyo, Rabu (3/10/2018).


BACA JUGA:

Gunung Soputan di Minahasa Tenggara Meletus

366 Kali Gempa Susulan Guncang Wilayah Sulteng hingga Rabu Pagi Ini


Dia menjelaskan, sebenarnya penelitian terhadap kontur tanah di Sulawesi sudah dilakukan sejak 2005 silam. Sepanjang Teluk Palu merupakan wilayah yang memiliki tanah dengan kontur berpasir yang rentan terjadi likuifaksi. Ketebalan sedimen mencapai 170 meter sehingga tidak aman untuk dijadikan tempat tinggal.

“Karena berpotensi terjadi likuifaksi saat terjadi gempa, daerah ini tidak aman untuk tempat tinggal,” ujarnya.

Kondisi itu diperparah dengan besarnya kekuatan magnitude gempa mencapai 7,4 SR yang mengguncang wilayah Palu dan Donggala. Wilayah ini memang menjadi titik pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Eurasia.

"Wilayah itu ada di zona benturan tiga lempeng besar dunia, jadi rawan terjadi gempa,” ucapnya.

Pergerakan dan pergeseran lempeng-lempeng ini yang mendorong pergerakan sesar geser Palu Koro sehingga mengakibatkan terjadinya gempa pada Jumat (28/9/2018). Sesar ini tergolong aktif karena pergerakannya mencapai 45 milimeter per tahun.

Subagyo menuturkan, sebenarnya gempa di Sulawesi ini mekanismenya sesar geser tidak menimbulkan perubahan volume air laut. Kemungkinan tsunami muncul karena adanya longsoran sedimen di bawah laut yang cukup besar dan muncul akibat pergeseran lempeng.

"Posisi Palu ada di ujung teluk yang sempit. Bentuk teluk yang menyempit ke daratan menjadikan gelombang tsunami mengarah ke Kota Palu,” tuturnya.

Kepala Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM Djati Mardiatno melihat kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah Sulteng dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami masih kurang. Daerah tersebut merupakan zona merah rawan gempa yang sudah diidentifikasi sejak lama.

“Mestinya dengan melihat potensi dan ancaman bencana, Pemerintah harus siap. Namun ternyata banyak korban jiwa dan fasilitas roboh,” kata Mardianto.

Musibah ini harus menjadi bahan pembelajaran bagi bangsa ini. Setidaknya gempa telah melanda Aceh, Yogyakarta, Padang, serta Lombok. Masyarakat perlu diberikan pemahaman akan potensi bencana.

Mitigasi bencana perlu diperkuat baik mitigasi struktural berupa penguatan bangunan publik yang tahan gempa, tsunami, maupun likuifaksi. Sementara mitigasi nonstruktural melalui peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintah dalam  menghadapi bencana.

“Penataan ruang harus memperhatikan potensi dan ancaman bencana guna meminimalkan risiko akibat bencana,” ujar Mardianto.


Editor : Donald Karouw