Kasus Pelecehan Mahasiswi UGM, Kuasa Hukum Minta Kampus Sanksi Korban

Sindonews, Priyo Setyawan ยท Minggu, 13 Januari 2019 - 09:04 WIB
Kasus Pelecehan Mahasiswi UGM, Kuasa Hukum Minta Kampus Sanksi Korban

Kuasa hukum HS, Tommy Susanto saat memberikan keterangan soal perkembangan kasus dugaan pelecehan seksual mahasiswi UGM, Sabtu (12/1/2019). (Foto: SINDOnews/Priyo Setyawan)

YOGYAKARTA, iNews.id – Kasus dugaan pencabulan dan pelecehan mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) saat menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Pulau Seram, Maluku, masuki babak baru. Pihak kuasa hukum terlapor (HS) menuntut kampus juga memberikan sanksi terhadap korban (AL), mahasiswi FISIP UGM.

Kuasa hukum HS, Tommy Susanto menegaskan, kliennya tidak melakukan pencabulan maupun pelecehan seksual terhadap korban. Sebab, kasus yang dituduhkan kepada HS bukan atas kemauan sepihak dari terlapor. Selain itu, keduanya juga tidak melakukan hubungan badan.

"Klien kami mengakui saat mereka berdua di dalam kamar memang mencium AL. Tetapi AL juga merespons ciuman tersebut," kata Tommy Susanto di Yogyakarta, Sabtu (12/1/2019).


BACA JUGA:

ORI dan Polda DIY Bahas Bersama Kasus Dugaan Pemerkosaan Mahasiswi UGM

Kasus Pemerkosaan Mahasiswi UGM, Polda DIY Sudah Periksa 19 Saksi


Atas fakta itu, Tommy meminta agar kliennya tidak dikambinghitamkan dan menuntut UGM tidak hanya memberi hukuman kepada HS, tetapi juga AL. Sebab perbuatan yang dirasa melanggar etika itu dilakukan keduanya.

"Kami juga ingin perkara ini untuk benar-benar diselesaikan secara adil dalam proses hukumnya," ujarnya.

Tommy juga meminta meminta jika Polda DIY melakukan gelar perkara kasus tersebut secara terbuka. Termasuk mengunakan pakar-pakar hukum yang kredibel dan mumpuni, sehingga permasalahan ini menjadi terang benderang dan tidak ada yang ditutup-tutupi.

"Jika perkara ini memang tidak ada unsur pidana di dalammya, mohon untuk dihentikan. Ini demi kemanusiaan dan masa depan klien kami. Kami juga meminta pihak-pihak yang tidak mengetahui masalah ini tidak berkomentar karena akan membiaskan pokok permasalahannya," tuturnya.

Kepala Humas dan Protokol UGM Iva Ariani mengaku belum bisa memberikan keterangan sebab masih melakukan kajian dan mempelajari hasil rekomendasi dari tim kode etik.

Diketahui, AL diduga mengalami pencabulan atau pelecehan seksual saat mengikuti KKN di Pulau Seram, Maluku, periode Juli-Agustus 2017. Terduga pelakunya yakni HS, rekan sesama mahasiswa KKN. Kasus ini kemudian dilaporkan UGM ke Polda DIY untuk diproses hukum.


Editor : Donald Karouw