Kulonprogo dan Gunungkidul Rawan Paham Radikalisme dan Terorisme

Kuntadi ยท Selasa, 09 Oktober 2018 - 12:46 WIB
Kulonprogo dan Gunungkidul Rawan Paham Radikalisme dan Terorisme

Suasana saat workshop BNPT dan FKPT DIY pencegahan paham radikalisme di kalangan pelajar di Yogyakarta, Senin (8/10/2018). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

BANTUL, iNews.id – Kabupaten Kulonprogo dan Gunungkidul menjadi dua wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dinilai rawan dengan tindak radikalisme dan terorisme. Selain itu bahkan ditengarai, beberapa tempat di DIY menjadi lokasi pertemuan para penganut paham radikalisme.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DIY, Muhtasar Syamsuddin, saat menyelenggarakan workshop pencegahan terorisme di Graha Pstaka, DIY, Senin (8/10/2018).

“Data dari penelitan yang kami lakukan, dua kabupaten ini rawan dengan tindak radikalisme dan terorisme,” kata Syamsuddin.

BACA JUGA: Ini Cara Artis Prisia Nasution Cegah Radikalisme Kalangan Muda di DIY

Dia menjelaskan, di Kabupaten Kulonprogo misalnya, saat ini rentan dengan penyebaran Islam Syariah. Banyak aktivis jebolan Timur Tengah yang menyebarkan ajaran ini kepada masyarakat. Begitu juga di Kabupaten Gunungkidul yang rawan penyebaran paham khilafah.

Menurut Dosen Filsafat UGM tersebut, saat ini dia melihat beberapa kampus mulai terpapar gerakan radikalisme dan terorisme. Indikasinya bisa dilihat dari banyaknya narasi-narasi yang didalam ada ekstrimisme, militansi dan eksklusifisme.

“Yogyakarta santer dikabarkan menjadi tempat rapat jaringan terorisme dan beruntung tidak ada aksi terorisme di daerah ini,” ujarnya.

Hal inilah yang menjadikan banyak pelaku dan jaringan terorisme yang tertangkap di DIY oleh tim Densus. Bahkan belum lama, ada yang ditembak mati karena berusaha melawan petugas saat penangkapan.

Syamsuddin menilai, untuk mencegah paham terorisme dan radikalisme, kearifan lokal sangat diperlukan. Budaya di Yogyakarta cukup kuat untuk meredam paham radikalisme. “Yogyakarta itu tidak cocok untuk tumbuh kembangnya radikalisme dan terorisme," ucapnya.

Kasubid Pemberdayaan Masyarakat BNPT ‎Andi Intan Dulung menambahkan, penyebaran paham radikalisme dan terorisme tidak hanya sampai ke kampus semata, sudah sampai ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Saat ini banyak anak-anak TK atau Paud yang tidak mau diajak belanja ke mall atau toko modern berjejaring. Mereka memilih belanja di warung tetangga karena paham radikalisme yang diberikan oleh para gurunya. “Kami akan rangkul guru dari semua jenjang pendidikan untuk mencegah paham radikalisme ini,” kata Andi Intan.


Editor : Donald Karouw