Mahasiswa Papua di Yogya Kerap Dapat Kekerasan, Begini Sikap Sultan

Kuntadi ยท Kamis, 04 Oktober 2018 - 21:56 WIB
Mahasiswa Papua di Yogya Kerap Dapat Kekerasan, Begini Sikap Sultan

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X. (Foto: Dok.iNews.id)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

YOGYAKARTA, iNews.id – Aksi mahasiswa dan pelajar asal Papua menuntut jaminan keamanan dan kenyamanan belajar di Kota Yogyakarta langsung disikapi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X.

Menurut Sultan, mahasiswa Papua sudah berjanji untuk tidak akan melakukan perkelahian. Kekerasan ini dilakukan secara sepihak atau ada masalah di antara oknum. "Mosok ora ana apa-apa (Masak tidak ada apa-apa) dilaporkan kekerasan. Tidak Mungkin, pasti ada masalah," kata Sultan, Kamis (4/10/2018).

Sultan mengaku tidak tahu persis korban kekerasan yang dialami mahasiswa Papua. “Bagaimana dia bisa menjadi korban, apa yang dia lakukan. Untuk itulah, saya akan meminta keterangan dari pejabat yang menemui. Saya tidak tahu persis, korban kekerasan yang mana," ujar Sultan.

BACA JUGA:

Kerap Dapat Teror, Mahasiswa Papua Sebut Yogya Sudah Tidak Nyaman

2 Kelompok Mahasiswa Papua dan Ambon Nyaris Bentrok di Sleman

Puluhan pelajar dan mahasiswa asal Provinsi Papua mendatangi Kantor Gubernur DIY, Kamis (4/10/2018). Mereka menuntut jaminan rasa kenyamanan untuk belajar di Kota Yogyakarta dan sekitarnya menyusul banyaknya aksi kekerasan yang menimpa mahasiswa asal Papua.

Presiden Mahasiswa Papua, Aris Yeimo mengatakan, kedatangan mahasiswa dan pelajar ke Yogyakarta hanya untuk belajar dan kuliah. Kondisi ini tidak lepas dengan julukan Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yang juga Kota Pelajar dengan slogan Yogyakarta berhati nyaman. "Sudah ada mahasiswa yang nyawanya melayang, tetapi tidak bisa diusut oleh kepolisian," ujarnya.

Dia menyebutkan, dalam kurun waktu 10 tahun, kata dia, sudah ada puluhan mahasiswa yang menjadi korban. Pihak kepolisian tidak mampu menyelesaikan dan terkesan ada aksi pembiaran sehingga aksi kekerasan terus menimpa mahasiswa papua. 


Editor : Kastolani Marzuki