Mengenal AWOS iRMAVIA, Sistem Pemantau Cuaca untuk Penerbangan Produksi BMKG

MNC Trijaya ยท Selasa, 09 Juli 2019 - 03:00 WIB
Mengenal AWOS iRMAVIA, Sistem Pemantau Cuaca untuk Penerbangan Produksi BMKG

Petugas BMKG menunjukkan alat pemantau cuaca otomatis (AWOS) iRMAVIA di Bandara Internasional Yogyakarta, Kulonprogo, DIY, Senin (8/7/2019). (Foto: MNC Trijaya/Marlene Karamoy).

YOGYAKARTA, iNews.id, - Keselamatan penerbangan dipengaruhi banyak faktor. Selain kelaikan pesawat, kemampuan pilot, personel navigasi, dan sarana bandara, faktor cuaca memegang peranan penting. Informasi mutakhir mengenai kondisi cuaca ini menjadi fokus Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Melalui sistem pemantau cuaca otomatis (Automated Weather Observing System/AWOS), BMKG menyampaikan informasi termutakhir kondisi cuaca untuk kebutuhan penerbangan.

"Informasi itu sangat berguna bagi keselamatan penerbangan. Meski tak ada stasiun BMKG, tetapi peralatan BMKG pasti ada, yang disebut AWOS," kata Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan BMKG Agus Wahyu Rahardjo kepada awak media di Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, DIY, Senin (8/7/2019).

Di sebagian besar bandara Indonesia, AWOS yang terpasang merupakan buatan luar negeri. Namun, pada tahun ini BMKG berhasil mengembangkan AWOS buatan sendiri. Seperti yang terpasang di Bandara Internasional Yogyakarta, yaitu AWOS iRMAVIA. Sistem ini diproduksi oleh BMKG, khususnya subbidang instrumentasi meterologi dan penerbangan (aviation).

"Dengan alat tersebut, data diolah, menggunakan bentuk sandi, dikirim langsung ke ATC (air traffic controller). Data lalu diolah ATC menjadi voice, masuk ke pilot. Hal itu dilakukan setiap setengah jam," kata Agus.

AWOS merupakan sistem pengamatan cuaca bandara yang dapat dikonfigurasi sepenuhnya untuk memberikan informasi dan laporan real time secara terus menerus mengenai kondisi cuaca bandara.

AWOS digunakan untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan dalam aktivitas penerbangan, mencakup parameter suhu, kelembaban, dan tekanan udara. Selain itu, arah dan kecepatan angin, jarak pandang serta tinggi awan.

Informasi tersebut kemudian ditransmisiskan ke stasiun meteorologi penerbangan dan layanan navigasi untuk panduan tinggal landas dan pendaratan pesawat terbang.

AWOS yang terinstal di bandara-bandara Indonesia diklasifikasikan sesuai dengan kelengkapan sensor yang terpasang dalam sistem tersebut.

Menurut Agus, hampir seluruh AWOS yang terinstalasi di bandara saat ini merupakan pabrikan luar negeri yang telah memiliki desain sistem tersendiri sehingga sulit dilakukan pengembangan sesuai karakter bandara di Indonesia.

Salah satu dampak dari hal tersebut, integrasi data dan sistem sulit dilakukan karena setiap pabrikan memiliki konfigurasi, komunikasi, catudaya, dan antarmuka yang berbeda satu dengan lainnya sehingga perlu suatu penyeragaman desain sistem.

Atas dasar itulah BMKG kemudian membuat AWOS dengan konfigurasi yang mudah dirancang dan dapat dilakukan kustomisasi jumlah sensor, media komunikasi, catudaya, dan desain tampilan sesuai kebutuhan dan karakteristik bandara. Lahirlah AWOS iRMAVIA.

Selain di Bandara Internasional Yogyakarta, sistem pemantau cuaca otomatis karya anak bangsa itu juga dipasang di Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Samarinda, Kalimantan Timur.

Sistem pemantauan cuaca otomatis ini sekaligus menjadi salah satu bukti bahwa BMKG yang bekerja 24 jam dalam 365 hari dengan didukung teknologi terus memberikan beragam informasi. Tidak hanya terkait kebencanaan, tetapi banyak sektor lainnya, termasuk penerbangan.


Editor : Zen Teguh