Motivasi Korban Gempa Palu, DIY Kirim Personel Difabel Siaga Bencana

Kuntadi ยท Selasa, 13 November 2018 - 20:37 WIB
Motivasi Korban Gempa Palu, DIY Kirim Personel Difabel Siaga Bencana

Warga terdampak gempa dan tsunami beraktivitas di dalam tenda penampungan sementara di halaman Universitas Alkhairaat Palu, Sulteng, Selasa (13/11/2018).(ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

BANTUL, iNews.id – Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengirimkan empat personel Difabel Siaga Bencana (Difagana) ke Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Mereka akan membantu memulihkan kondisi psikologi para korban yang trauma pascagempa bumi dan tsunami.

Kepala Dinas Sosial DIY Untung Sukaryadi mengatakan, tim difagana yang merupakan penyandang tuna grahita, akan berada di Sulteng selama 50 hari ke depan. Sebelum dikirim, mereka telah mendapat bekal pendidikan dan pelatihan. Salah satunya terkait upaya pendampingan sosial dan pengetahuan terkait mitigasi bencana.

“Mereka akan memberikan penguatan kepada korban bencana yang akhirnya menjadi difabel. Tim difagana sudah berada di Palu sejak 9 November lalu,” kata Untung Sukaryadi, Selasa (13/11/2018).

BACA JUGA:

Pimpin Rakor Bencana Sulteng di Palu, Ini yang Dibahas Wapres JK

87.000 Warga Palu Masih Tinggal di Tenda Pengungsian

Untung menuturkan, musibah di Sulteng merobohkan rumah dan tidak menyisakan harta benda para korban. Selain itu, banyak korban yang harus cacat permanen. Kehadiran tim difagana di sana diharapkan bisa memotivasi para korban gempa agar kembali bersemangat menjalani hidup.

“Empat difagana ini akan memberikan memberikan motivasi perjuangan hidup. Bagaimanapun, mereka harus bangkit dan bisa siap menapaki kehidupan di masa depan,” paparnya.

Tim Difagana di DIY terdiri atas 50 orang penyandang difabel yang sudah terbentuk sejak bulan November 2017 silam. Pemkab DIY menargetkan nanti di setiap kecamatan ada difagana. Pendidikan yang diberikan pada mereka di antaranya pengetahuan mengenai pengelolaan shelter, pengelolaan logistik, dapur umum, serta mendirikan tenda.

“Jika orang-orang umumnya mampu mendirikan tenda dalam jangka waktu tiga menit, mereka bisa mendirikan hanya dalam jangka waktu empat menit. Artinya kemampuan mereka kompetitif dengan yang lain,” paparnya.

Sebanyak 70 persen difagana ini merupakan difabel tuna grahita disusul tuna rungu serta tuna wicara. Pengiriman tim difanaga ini juga dalam rangka mencegah penyandang cacat korban gempa menjual empati kepada masyarakat. Meskipun dengan keterbatasan, mereka harus bangkit menolong orang lain.

Untung juga menyatakan, tim difagana mendapat tugas tambahan di kawasannya, yakni memanfaatkan potensi alam untuk kemandirian kehidupan mereka. “Misalnya, mereka bisa membuat wedang uwuh dan memanfaatkan bahan-bahan sekitar membuat jamu dan sebagainya,” ujarnya.


Editor : Maria Christina