Musa Asy’arie: Mudik Itu Heroisme dan Bekal Spirit Eksistensial

Kastolani · Senin, 03 Juni 2019 - 03:30 WIB
Musa Asy’arie: Mudik Itu Heroisme dan Bekal Spirit Eksistensial

Pemudik sepeda motor memadati ruas Jalan Kalimalang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Foto: iNews.id/Rahmat Hidayat)

JAKARTA, iNews.id – Filosof Muslim Musa Asy’arie memiliki cerita soal mudik Lebaran. Sewaktu muda dulu, mudik adalah keniscayaan dan Lebaran tanpa mudik terasa bukan Lebaran lagi.

Dia menuturkan, meskipun mudiknya tidak terlalu jauh, hanya antara Jogja dan Pekalongan, tapi rasanya bukan main gegap gempitanya mudik itu.

“Rawe-rawe rantas malang-malang putung, pokoke mudik. Bayangkan jika mudik itu jauh atau dari Jakarta, mungkin lebih dahsyat lagi, karena perjuangan mudik adalah perjuangan hidup mati,” kata Guru Besar Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu, Sabtu (1/6/2019).

Bekal yang dikumpulkan selama setahun, kata Musa, tumpah ruah saat mudik. Puasa diambang mudik terasa berat, apalagi bagi yang belum punya bekal cukup, ngutang pun akan dilakukan, sungguh memilukan, tapi pokoke mudik.

Bagi yang sukses, saat mudik adalah saat pembuktian jati diri di kampung halaman tempat dirinya dilahirkan. Sekaligus menimba semangat baru untuk kembali tahun depan dengan lebih sukses lagi. “Begitu besar artinya mudik baginya untuk meraih semangat baru demi kesuksesan baru di Lebaran tahun depan. Pokoke mudik,” ucapnya.

Bagi yang gagal, mudik sangat penting untuk mendapatkan doa dan bekal spiritual baru agar gagal menjadi sukses yang tertunda. “Tahun ini boleh gagal, tetapi tidak untuk tahun depan,” katanya.

Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu mengatakan, mudik mempunyai daya spiritual untuk meraih mimpi menjadi kenyataan. Mudik adalah heroisme baru yang tak pernah ada habisnya. “Mudik memang dahsyat, tetapi menyebalkan bagi orang yang tidak pernah merasakan heroismenya mudik. Pokoke mudik, beres,” katanya.

 


Editor : Kastolani Marzuki