Musim Hujan Tiba, Warga Gunungkidul Diimbau Waspada Leptospirosis

Antara ยท Jumat, 18 Januari 2019 - 07:59 WIB
Musim Hujan Tiba, Warga Gunungkidul Diimbau Waspada Leptospirosis

Leptospirosis merupakan virus yang terkandung dalam kencing tikus. (Foto: Okezone)

GUNUNGKIDUL, iNews.id – Musim penghujan yang kini melanda sejumlah wilayah di Tanah Air kerap membawa serta berbagai jenis penyakit. Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau warga agar mewaspadai penyakit leptopirosis saat musim hujan.

Fungsional Entomolog Kesehatan Bidang Penyakit Tidak Menular Dinkes Gunung Kidul, Eko Mujiarto mengatakan, Januari hingga Maret 2019, menjadi bulan paling rawan penularan penyakit mematikan ini.

"Kajian dan pendataan yang dilakukan pada Januari sampai Maret, bahkan April adalah masa kritis terkait penularan leptospirosis. Curah hujan tinggi dan aktifitas pertanian padat, tentu perlu langkah antisipasi ketat," kata Eko di Gunungkidul, Jumat (18/1/2019).

Dia mengatakan, pada 2017, misalnya terdapat 64 kasus di mana beberapa orang korban di antaranya meninggal dunia. Beruntung berkat upaya keras dari jajaran petugas maupun masyarakat, jumlah kasus berhasil ditekan pada 2018 hingga hanya terjadi 16 kasus. Dari 16 kasus itu, tercatat satu penderita meninggal dunia.

Sedangkan, pada awal 2019 ini, telah dilaporkan terdapat tiga kasus leptospirosis. Dari tiga kasus yang ada, satu korban dinyatakan meninggal dunia oleh pihak medis karena terlambat mendapatkan perawatan.

"Satu korban ada di Kecamatan Ponjong dan dua lainnya di Gedangsari. Tetapi, mereka tertular virus Leptospirosis tidak di wilayahnya yakni di Yogyakarta dan Klaten. Untuk yang meninggal adalah warga Kecamatan Gedangsari," ujar Eko.

Dia mengatakan, daerah yang tergolong cukup rawan terhadap penularan penyakit ini berada di zona Utara, seperti misalnya Gedangsari, Ngawen, Patuk, Nglipar, dan Semin. Hal ini dikarenakan areal pertanian di kawasan ini memang cukup luas dibandingkan di kecamatan-kecamatan lainnya.

"Namun tidak menutup kemungkinan jika di daerah lain juga tingkat kerawanannya tinggi, mengingat tikus cukup banyak dan yang positif leptospirosis juga banyak," katanya.

Sekretaris Dinkes Gunung Kidul, Priyanta Madya mengemukakan, untuk mengantisipasi risiko tertular, masyarakat disarankan ke ladang setelah matahari terbit.

Di mana memang, virus yang terkandung dalam kencing tikus akan dengan sendirinya mati saat telah terkena sinar matahari. Namun memang kesadaran harus dibina dari masyarakat sendiri, karena kultur di Gunung Kidul, petani mulai berladang di saat matahari belum terbit.

"Dari lintas sektoral, semua terlibat dalam penanganan dan pencegahan. Ada tim yang menangani kasus semacam ini, jika ada laporan langsung ditindak lanjuti," kata Priyanta.


Editor : Himas Puspito Putra