Ombak Besar Rusak 2 Rumah dan Perahu di Kulonprogo, Nelayan Pilih Tak Melaut

Kuntadi ยท Rabu, 12 Juni 2019 - 22:05 WIB
Ombak Besar Rusak 2 Rumah dan Perahu di Kulonprogo, Nelayan Pilih Tak Melaut

Nelayan di Kulonprogo menunjukkan katir (penyeimbang) perahu jukung yang patah akibat dihantam ombak besar. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id – Ombak besar yang melanda pantai selatan Kulonprogo dalam tiga hari belakangan ini telah menyebabkan dua rumah milik warga rusak. Sejumlah fasilitas umum dan perahu nelayan juga tidak luput dari terjangan gelombang pasang.

Kepala Dukuh Trisik, Joko Samudro mengatakan, dua rumah warga yang rusak yakni, milik Wajiyo dan Kromo. Selain rumah dan warung, kolam renang milik Wajiyo juga mengalami kerusakan. “Ada dua rumah yang rusak, air sempat naik hingga 200 meter dari bibir pantai,” kata Joko, Rabu (12/6/2019).

Selain itu, kata dia, dua pengunjung pantai sempat terseret ombak. Namun, keduanya berhasil diselamatkan tim SAR dan hanya mengalami luka lecet. “Kita minta pengunjung untuk hati-hati saat berwisata ke pantai,” ujar anggota Sarlinmas Pantai Trisik itu. 

BACA JUGA: Ombak Besar Pantai Selatan Jawa, Nelayan di Bantul Libur Melaut   

Pemilik rumah, Wajiyo mengatakan, ombak pantai selatan cukup besar sekitar lima meter dari kondisi normal. Air laut menerjang sebagian rumahnya dan material pasir masuk ke dalam rumah. Termasuk kolam renang miliknya untuk mandi bagi wisatawan. “Kolam renangnya sampai jebol diterjang gelombang,” tuturnya.  

Di Pantai Congot, ombak besar juga memaksa para nelayan libur melaut. Puluhan perahu jukung yang biasa dipakai nelayan untuk mencari ikan kini disandarkan di tepi pantai. “Tidak ada (nelayan) yang melaut, ombaknya sangat besar,” kata Ketua Kelompok Nelayan Congot, Bambang Sutrisno.

Menurutnya, ada beberapa perahu nelayan yang rusak akibat hempasan gelombang. Sebelumnya perahu yang ada hanya diparkir di sekitar bibir pantai. Namun ombak mendorong perahu ke daratan hingga saling bertabrakan. Akibatnya ada katir (alat penyeimbang) yang patah, dan juga perahu retak. “Selama ombak besar, kita cari pekerjaan lain. Mengurus lahan pertanian atau serabutan,” ucapnya. 

 


Editor : Kastolani Marzuki