Pemda DIY Didorong Maksimalkan 144 Titik Potensi Air Bawah Tanah untuk Cegah Krisis Air Bersih

Kuntadi ยท Selasa, 03 Desember 2019 - 02:00 WIB
Pemda DIY Didorong Maksimalkan 144 Titik Potensi Air Bawah Tanah untuk Cegah Krisis Air Bersih

Seminar "Manajemen Pengelolaan Air Mengatasi Permasalahan Kekeringan di DIY" yang diadakan di Kantor DPD DIY, Yogyakarta, Senin (2/12/2019). (Foto: iNews/Kuntadi).

YOGYAKARTA, iNews.id – Sejumlah pihak mendorong pemerintah daerah (pemda) di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) memaksimalkan potensi air bawah tanah yang melimpah untuk mencegah krisis air bersih. Sampai saat ini sudah terdata 144 titik air bawah tanah melimpah di seluruh daerah di DIY.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Biwara Yuswantara mengatakan jika semua potensi air bawah tanah itu bisa diangkat maka DIY bisa bebas dari krisis air bersih pada 2022 mendatang.

“Potensi air bawah tanah itu ada 144 titik berdasarkan hasil penelitian bersama antara pemda DIY dan UGM (Universitas Gadjah Mada), yang bisa dipakai untuk mengatasi masalah kekeringan. Kalau 144 titik itu bisa diangkat semuanya maka 2022 kita bisa bebas krisis air bersih,” ucap Biwara dalam acara Seminar Manajemen Pengelolaan Air Mengatasi Permasalahan Kekeringan di Kantor DPD RI DIY di Yogyakarta, Senin (2/2/2019).

 

BACA JUGA: Sumber Air Mengering, BPBD Gunungkidul Ambil Air hingga ke Luar Daerah

 

Untuk mengangkat potensi ini butuh biaya. Biwara mengatakan biaya untuk memaksimalkan potensi itu bisa dimasukkan dalam perencanaan anggaran secara bertahap. Jika potensi itu bisa diangkat, maka permasalahan kekeringan bisa diselesaikan.

Sementara itu Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) Afnan Hadikusumo mendorong masyarakat ikut melakukan pengelolaan air hujan. Menurutnya selama ini air hujan belum dikelola secara baik oleh masyarakat. Begitu juga potensi air bawah tanah yang bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan air bersih di masyarakat.

“Di Indonesia potensi air bersih cukup melimpah. Namun saat kemarau banyak yang kekeringan dan butuh air bersih. Kalau air hujan dan air bawah tanah dikelola, tidak akan ada lagi kekeringan atau krisis air bersih,” kata Afnan dalam acara yang sama.

 

BACA JUGA: Alami Kekeringan, Warga Gunungkidul Berebut Bantuan Air Bersih

 

Menurut Afnan, hasil penelitian yang dilakukan oleh FAO (Food and Agriculture Organization) mengatakan ada proyeksi ancaman krisis pangan, krisis air bersih, dan krisis energi pada tahun 2030 mendatang. Hal ini harus diantisipasi masyarakat, khususnya dengan pengelolaan potensi air bersih yang melimpah.

Afnan mengatakan pemerintah perlu membuat regulasi dan kebijakan yang memperkuat rencana tersebut. Hal ini penting untuk menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat dan mengelola air secara mandiri serta menangkap air hujan dan mengelola air tanah. Selain itu, masyarakat perlu mengelola air tanah dengan membuat alat penampungan. Jika ini dilakukan mereka bisa mendapatkan air bersih yang murah.

“Air hujan itu belum banyak dipanen. Padahal airnya sangat bersih,” kata Afnan.


Editor : Rizal Bomantama