Peringati Asyura, Warga Bantul Gelar Umbul Dungo dan Santap Bubur Suro

Trisna Purwoko ยท Rabu, 11 September 2019 - 04:36 WIB
Peringati Asyura, Warga Bantul Gelar Umbul Dungo dan Santap Bubur Suro

Warga Bantul menggelar umbul dungo dengan menyantap bubur Suro pada peringatan Asyura atau 10 Muharram. (Foto: iNews.id/Trisna Purwoko)

BANTUL, iNews.id - Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang mulia. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, salah satunya puasa Asyura atau puasa pada tanggal 10 Muharram yang jatuh pada Selasa, 10 September 2019.

Peringatan Asyura atau biasa disebut Lebaran anak yatim ini selain digelar umat Islam di belahan dunia lain, juga dilakukan umat Islam di Tanah Air seperti di Dusun Kembangputihan, Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul, DIY.

Warga dusun tersebut menggelar umbul donga atau menaikkan doa bersama puluhan anak yatim dengan tema Merajut Indonesia.

Bersama puluhan anak yatim, warga mendoakan agar bangsa Indonesia aman dan sejahtera serta terhindar dari perpecahan antaranak bangsa .

Panitia Umbul Donga Asyura, Raden Mas Ryan Budi Nuryanto mengatakan, pada tanggal 10 Muharram 1441 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 10 September ini, peringatan Asyura digelar oleh warga bantul dengan kegiatan berbagi dan membahagiakan puluhan anak yatim. 

“Kita ajak puluhan anak yatim dari Kecamatan Pajangan Bantul ini untuk bergembira dengan bermain, berdoa, makan bubur Suro dan diberikan sepasang ayam untuk dipelihara di rumah masing-masing,” katanya, Selasa (10/9/2019).

Sepasang ayam dan menikmati bubur Suro, puluhan anak yatim diajak untuk menulis doa dan harapan. Kemudian kertas berisi doa tersebut diikat pada sebuah balon  untuk kemudian diterbangkan bersama-sama ke udara.

Dalam umbul donga yang digelar oleh warga Bantul ini, dihidangkan menu makanan khusus yang hanya dimasak pada Bulan Suro atau Muharram, yakni bubur Suro.

Bubur Suro adalah bubur yang terbuat dari beras ketan dicampur gula jawa dan santan kelapa sehingga memiliki rasa yang manis dan legit.

Pembuat bubur suro, Heri Affandi mengatakan, bubur Suro yang memiliki rasa manis legit dan hanya dibuat pada bulan Suro ini sarat dengan filosofi. 

“Bubur terbuat dari beras ketan ini terasa lengket yang bermakna perekat kerukunan antarwarga, rasa manis dengan makna bahwa setelah tercipta kerukunan antarwarga, maka hubungan antar warga juga akan harmonis dan manis,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki