Pilkades Serentak di Kulonprogo, 5 Calon Kades Bersaing dengan Istri

Kuntadi ยท Selasa, 09 Oktober 2018 - 11:08 WIB
Pilkades Serentak di Kulonprogo, 5 Calon Kades Bersaing dengan Istri

Ilustrasi pilkades. (Foto: Sindonews)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

KULONPROGO, iNews.id – Sebanyak 20 desa di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan melaksanakan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak, pada 14 Oktober mendatang. Di lima desa, ada lima calon petahana yang akan bersaing dengan istri masing-masing menjadi kepala desa.

Kepala Seksi Kelembagaan dan Aparatur Pemerintah Desa, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DPMDPPKB), Risdiyanto memaparkan, ada 59 calon kepala desa yang terdaftar dan 15 di antaranya petahana. Figur kepala desa petahana ini cukup kuat dan sulit tertandingi.

Hal ini membuat kandidat lain urung mencalonkan diri untuk bertanding. Akibatnya di lima desa, para calon harus melawan istrinya sendiri dalam pilkades. Lima desa ini yakni, Desa Kedundang, Kecamatan Temon, Desa Panjatan dan Desa Cerme di Kecamatan Panjatan, Desa Pandowan di Kecamatan Galur, dan Desa Sri Kayangan di Kecamatan Sentolo.

“Ada lima desa, yang hanya dua calonnya, itu pun berstatus suami istri,” kata Risdiyanto di Kulonprogo, Selasa (9/10/2018).

BACA JUGA:

Pilkades di Pemalang Ricuh, Pendukung Calon Kades Terlibat Bentrok

Ribuan Warga Geruduk DPRD Pemalang Tuntut Pilkades Diulang

Risdiyanto memaparkan, fenomena ini tidak melanggar aturan yuridis formal. Pemkab Kulonprogo telah mengatur persyaratan dan tertuang dalam Peraturan Daerah Kulonprogo Nomor 2/2015 tentang Jabatan Kepala Desa maupun Peraturan Bupati Kulonprogo Nomor 23/2015 terkait Pelaksanaan Perda tersebut. Disebutkan bahwa calon minimal dua orang dan maksimal lima orang, tidak bisa calon melawan kotak kosong.

Kondisi inilah yang menjadikan calon harus mengusung lawan yang juga istrinya sendiri. Lawan ini terkesan hanya untuk pelengkap persyaratan saja agar terpenuhi persyaratan minimal dua calon. Hal ini juga tidak dilarang dalam perda. “Kesannya memang hanya jadi bandul, ini karena figur calon sangat kuat dan sulit ditandingi,” katanya.

Masa kampanye pilkades tengah berlangsung sampai dengan besok. Salah satu petahana yang maju dalam Pilkades di Desa Kedundang, Abdul Rosyid, mengakui istrinya juga maju sebagai lawan politiknya.

Istrinya terpaksa maju karena sampai dengan batas akhir pendaftaran, tidak ada calon lain yang maju. Begitu juga dalam perpanjangan masa pendaftaran, tidak ada yang mendaftar. Menjelang penutupan, istrinya akhirnya memberanikan diri mendaftar sebagai salah satu calon kepala desa.

“Dia maju atas permintaan warga. Siapa pun yang terpilih tidak masalah,” ujar Rosyid. 


Editor : Maria Christina