Polisi Bongkar Pabrik Miras Oplosan Palsu Merek Terkenal di Sleman

Kuntadi ยท Kamis, 11 Juli 2019 - 16:22 WIB
Polisi Bongkar Pabrik Miras Oplosan Palsu Merek Terkenal di Sleman

Petugas Ditreskrimsus Polda DIY meunjukkan barang bukti pabrik miras oplosan dengan merek terkenal di Depok, Sleman. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

SLEMAN, iNews.id – Petugas Ditreskrimsus Polda DIY membongkar pabrik minuman keras (miras) berkadar alcohol 40 persen tanpa dilengkapi izin edar.

Pabrik miras rumahan yang diproduksi RD 931) warga Depok, Sleman itu dibuat dan diedarkan online di wilayah DIY. Polisi sudah menetapkan RD sebagai tersangka dalam kasus itu.

Kabid Humas Polda DIY Kombespol Yulianto, mengatakan praktik pembuatan miras oplosan ini berhasil diungkap petugas Direskrimsus Polda DIY pada awal Juli lalu. Saat itu petugas mendapatkan informasi adanya pembuatan miras tanpa dilengkapi izin edar yang mencatut merek tertentu.

Hingga akhirnya dilakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan RD di rumahnya. “Saat ini tersangka sudah kita tahan,” katanya di Mapolda DIY, Kamis (11/7/2019).

BACA JUGA: Polisi Gerebek Gudang Miras Palsu di Wates, Kulonprogo

Direktur Ditreskrimsus Polda DIY, Kombes Pol Toni Surya Putra, menambahkan miras oplosan yang diproduksi tersangka ini memiliki kadar alkohol 40 persen. Pelaku memproduksi miras dengan campuran alkohol murni, lemon, gula pasir dan air mineral.

“Selanjutnya miras ini dikemas dengan botol dan disegel agar menyerupai aslinya. Miras ini dioplos sendiri, menyerupai home industry dengan sistem pemasaran secara online,” kata Toni.  

Menurut dia, pelaku sudah lima bulan memproduksi miras oplosan. Produknya banyak dipasarkan melalui media sosial dan aplikasi jual beli online. Dalam setiap transaksi, pelaku akan menyepakati tempat melalui media sosial. “Begitu deal, pelaku mengantarkan produk ini kepada calon pembeli. Setiap botolnya dijual dengan harga Rp160.000,” ujarnya.

Selain mengamankan tersangka, petugas juga menyita barang bukti berupa sembilan botol miras oplosan yang diberi merek Conti. Selain itu, uang tunai sebanyak Rp19,8 juta hasil transaksi penjualan.

“Pelaku dijerat dengan Pasal 204 ayat (2) KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun dan Pasal 142 UU NO 18 tahun 2018 dengan ancaman dua tahun dan atau denda Rp4 miliar,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki