Salat Idul Adha di Alun-Alun Wates Kulonprogo, Khatib Ajak Jaga Persatuan Bangsa

Kuntadi ยท Minggu, 11 Agustus 2019 - 07:53 WIB
Salat Idul Adha di Alun-Alun Wates Kulonprogo, Khatib Ajak Jaga Persatuan Bangsa

Ribuan umat Islam di Kulonprogo saat menunaikan Salat Idul Adha di Alun-Alun Wates, Minggu (11/8/2019). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id - Ribuan umat Muslim di Kabupaten Kulonprogo, DIY, menunaikan Salat Idul Adha di Alun-alun Wates, Minggu (11/8/2019) pagi. Bertindak sebagai Imam yakni Muhammad Nur Fikruddien dan Khatib disampaikan Ustadz Kodirun. Tampak juga di lokasi Wakil Bupati Kulonprogo Sutedjo.

Dalam khotbahnya, Khatib mengatakan hari ini jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia maupun yang berkumpul di Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Ilahi dalam menjalankan ibadah haji, merayakan Idul Adha. Mereka melempar Jumrah Aqobah di Mina sebagai simbol perlawanan terhadap kekuatan jahat yang selalu mengganggu manusia.

Meskipun para Jemaah beraneka ragam suku, bangsa, bahasa dan warna kulit, namun mereka berbaur, berpadu dan menyatu dalam menjalankan syariat Allah SWT. 

"Mereka serentak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan Allah," ujarnya dalam khutbah.


Bisa dipastikan dari raut wajah mereka, tidak tampak sedikitpun ada perselisihan, percekcokan dan permusuhan. Sebaliknya, segala atribut yang biasa menjadi biang perpecahan dan percekcokan, mereka tanggalkan dan tinggalkan.

Warna pakaian yang mereka kenakan, aktivitas ibadah yang dikerjakan dan lantunan kalimat terucap, menunjukkan jika umat telah dipersatukan akidah Islamiyah. Ini menjadi sebuah pemandangan yang sangat menyejukan dan membahagiakan hati orang yang beriman. Pemandangan yang senantiasa merindukan persatuan dan persaudaraan.

Sementara umat Islam di tempat lain, di seluruh dunia, turut pula melantunkan takbir. Mereka beramai-ramai mendatangi lokasi tempat Salat Idul Adha dan dengan khusyuk menyimak uraian kalimat yang disampaikan Khatib. Seperti juga umat Islam di Kulonprogo.

Kemudian usai salat, maka akan dilanjutkan dengan penyembelihan dan pembagian daging hewan kurban. Betapa ikhlasnya hati kaum Muslimin. Dan betapa pedulinya mereka terhadap nasib orang lain sehingga berkenan untuk berkurban.

"Marilah kita terus bertaqwa kepada Allah. Mempertahankan ketakwaan dan meningkatkan salawat dan salam kepada Muhammad," ucapnya.

Namun sungguh, persatuan Muslimin yang diperlihatkan dalam ibadah haji dan Hari Raya Idul Adha ini justru terlihat kontras dengan realitas keseharian umat manusia saat ini. Persatuan umat dan persaudaan kini sedang terkoyak, hanya karena perbedaan baju, warna, kelompok dan kepentingan.

Akibatnya, mereka mudah dibenturkan. Karena itu, marilah jadikan momentum Hari Raya Idul Adha untuk merajut kembali persatuan dan kesatuan umat demi menggapai kejayaan dan kemakmuran anak bangsa Indonesia.

Khatib juga mengingatkan, Allah telah meletakkan prinsip-prinsip penting dalam persatuan dan persaudaraan. Yaitu akidah Islamiyah, sebuah ikatan yang diikat Allah untuk menyatukan umat.

Sejarah telah membuktikan, ikatan Islamlah yang mempertautkan hati suku Aus dan Khajraj di Madinah. Padahal, sebelumnya kedua suku itu saling bermusuhan berpuluh-puluh tahun lamanya.

Ikatan ini pula yang berhasil mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Kendati mereka berasal dari suku dan Tanah Air yang berbeda, namun tetap bisa bersatu. Ikatan ini sekaligus mempersatukan seluruh umat Islam di seluruh dunia selama berabad-abad hingga menjadi kuat dan disegani sepanjang sejarah.

“Kesatuan dan keutuhan negara kita, itu harus terus dijaga dan dipertahankan hingga hari kiamat. Tentunya dengan senantiasa berkarya dan beramal nyata yang bermanfaat bagi orang banyak,” katanya.

Khatin melanjutkan, pada Idul Adha saat ini juga diperlukan kesediaan dan keikhlasan untuk berkurban, saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah.

“Setiap Hari Raya Idul Adha, kita selalu diingatkan peristiwa besar yakni pengorbanan hamba Allah, Nabi Ibrahim As dan putranya Ismail As. Keduanya telah membuktikan ketaatan dan kecintaannya kepada Allah SWT di atas segala-galanya. Keduanya dengan lapang dada menunaikan perintah-Nya, meski harus mengurbankan sesuatu yang paling dicintainya,” tuturnya.


Editor : Donald Karouw