Simposium di Yogya, Menag: Jangan Bawa Agama untuk Kepentingan Politik

Kuntadi ยท Rabu, 07 November 2018 - 14:28 WIB
Simposium di Yogya, Menag: Jangan Bawa Agama untuk Kepentingan Politik

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin menjadi pembicara dalam Simposium Internasional oleh ICRS di Novotel, Yogyakarta, Rabu (7/11/2018). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

YOGYAKARTA, iNews.id – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin berharap agama tidak dipolitisasi menjelang Pemilu dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Kondisi ini menurutnya rentan menimbulkan konflik dan perpecahan.

Lukman mengatakan, semua agama memiliki esensi sama untuk menegakkan keadilan dan menghormati antarmanusia. “Bicara itu (Politisasi agama) Agama itu memiliki dua perspektif yang harus dipahami,”jelas Menteri Agama usai mengisi Simposium Internasional tentang Kehidupan Keagamaan, di Novotel Hotel, Yogyakarta, Rabu (7/11/2018).

Menurutnya, ada dua perspektif agama, yakni dari sisi internal dan eksternal. Dari sisi internal ajakan agama akan menemui titik yang sama. Di sini tidak ada perbedaan yang dilihat dari inti ajaran pokok. Sebagai masyarakat religi, bangsa ini tidak bisa meninggalkan substansi ajaran pokok agama. 

“Namun dari sisi eksternal secara formal, agama merupakan sebuah institusi kelembagaan. Tentu saja akan banyak terdapat perbedaaan. Tidak boleh ini dilihat dari sisi luar saja,” ucapnya.

Menag mengajak masyarakat untuk menegakkan esensi agama dengan adil dan memposisikan manusia pada tempatnya. “Saling menghormati dan melindungi harus lebih dikedepankan. Bukan mengedepankan dari sisi luarnya saja yang akan banyak menimbulkan permasalahan. Kalau itu dikedepankan (eksternal) akan banyak masalah. Politik agama harus mengedepankan subtansi esensial,” ujarnya.

Simposium yang dilaksanakan oleh Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) bekerja sama dengan Kementerian Agama itu dihadiri tokoh agama dan budayawan dari 15 negara. Berbagai topik akan dibahas secara mendalam yang sesuai dengan kondisi bangsa dan juga dunia internasional. 

“Dari simposium ini nantinya akan ada rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti Kemenag sebagai institusi pemerintah yang membidangi keagamaan,” kata Lukman. 

Hal senada juga disampaikan peneliti ICRS Dicky Sofjan. Menurutnya, agama tidak boleh dipakai untuk kepentingan politik. Apalagi menjadi sarana untuk meraih kekuasaan. “Jangan sampai agama dimainkan, tapi sebaliknya spirit dari ajaran agama itu yang dijalankan,” tuturnya.


Editor : Himas Puspito Putra