Tak Ada Sosialisasi, Warga Tuksono Tolak Pembangunan Gardu Induk PLN

Kuntadi ยท Rabu, 07 November 2018 - 10:53 WIB
Tak Ada Sosialisasi, Warga Tuksono Tolak Pembangunan Gardu Induk PLN

Warga menunjukkan lahan yang akan dipakai untuk gardu induk PLN di Tuksono Sentolo Kulonprogo. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id – Warga Pedukuhan Bulak, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) keberatan dengan rencana pembangunan gardu induk milik PLN di wilayahnya. Alasannya, selama ini warga belum pernah mendapatkan sosialisasi rencana pembangunan.

Belakangan warga para pemilik tanah dikumpulkan di balai desa untuk diberikan rencana kompensasi ganti rugi. “Warga sekitar menolak, karena tidak ada sosialisasi,” ujar Dwi Nuryanto salah seorang warga, Rabu (7/11/2018).

Menurutnya, gardu induk ini akan menempati lahan milik sekitar 10 orang warga. Dirinya juga merupakan pemilik lahan yang berbatasan langsung dengan tanah yang dipakai. Namun sampai saat ini, warga tidak pernah mendapatkan sosialisasi.

Pada Agustus lalu, warga dikejutkan dengan upaya pembebasan ganti rugi lahan. Saat itu para pemilik lahan dikumpulkan di balai desa untuk diberikan nilai besaran ganti kerugian. Di sini permasalahan kembali muncul karena besaran nilai tidak sama.

Harga yang dipatok berkisar antara Rp230.000 sampai dengan Rp450.000 per meter. Mereka yang harganya mahal, merupakan anggota tim kecil. Tim ini melibatkan eks kepala dukuh yang dilengserkan warga karena diduga melakukan tindak asusila.

Sesuai rencana awal, pada 31 Oktober kemarin, proses pembayaran akan dilakukan. Namun warga mengirimkan surat keberatan kepada bupati ditembuskan kepada PLN, Irda, Kejaksaan, BPN, Camat Sentolo dan juga ke Desa. “Setelah ada surat itu proses pembayaran ditunda,” ujarnya.

Menurut Dwi, warga merasakan ada kesan intimidasi yang dilakukan oleh tim. Mereka sering didatangi ke rumah warga yang menolak dan ikut menandatangi penolakan. Dia mengatakan, saat ini warga sudah hidup damai tanpa ada kehadiran gardu induk. Dikhawatirkan kehadiran gardu ini justru akan menimbulkan radiasi dan bising. “Lahan itu juga cukup produktif, saat kemarau menjadi sawah tadah hujan,” jelasnya.

Sementara itu Camat Sentolo, Widodo mengatakan, sosialisasi sebenarnya sudah dilakukan dua kali. Hanya saat itu yang diundang 10 orang pemilik tanah, ketua RT, RW dan juga dukuh. Sosialisasi dilaksanakan di balai desa dan melibatkan sejumlah pihak.

“Bahkan dalam proses di lapangan dan penentuan harga ganti rugi juga melibatkan tim appraisal, kejaksaan dan juga BPN. Tahap awal memang hanya pemilik tanah, belum ke warga sekitar,” tuturnya.

Sementara, sosialisasi kepada warga akan dilakukan pada saat proses penyusunan UKL/IPL yang rencananya akan dilaksanakan hari ini. “Jika memang ada keberatan warga, sangat mungkin dokumen itu akan direvisi,” ucapnya.


Editor : Himas Puspito Putra