Tekan Kekerasan Anak, Menteri Yohana: Keluarga Jadi Kunci Utama

Kuntadi ยท Jumat, 09 November 2018 - 21:29 WIB
Tekan Kekerasan Anak, Menteri Yohana: Keluarga Jadi Kunci Utama

Menteri PPA Yohanna Susana Yambise saat memberikan kuliah umum di ruang Auditorium Merapi, Fakultas Geografi UGM, Jumat (9/11/2018). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

YOGYAKARTA, iNews.id - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohanna Susana Yembise prihatin dengan banyaknya kasus kekerasan yang menimpa kaum perempuan dan anak. Tidak hanya fisik, mereka juga menjadi korban kekerasan seksual.

Menurut Yohanna, untuk menekan kasus kekerasan anak dibutuhkan peran dan pendampingan dari keluarga, khususnya orang tua. "Untuk menekan kekerasan pada anak, keluarga menjadi kuncinya," kata Menteri Yohanna saat memberikan kuliah umum di ruang Auditorium Merapi, Fakultas Geografi UGM, Jumat (9/11/2018).

Kuliah umum ini diselenggarakan oleh Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana Fakultas Geografi yang bertajuk Gender Equality Dalam Era Digital Innovation di Indonesia.

Menurut Yohanna, orang tua juga harus responsif terhadap permasalahan keluarga dan memberikan perhatian kepada anak, agar tidak menjadi korban kekerasan. Anak-anak juga harus diberikan perlindungan agar mereka tidak menjadi korban kekerasan. "Anak harus dilindungi dan jangan sampai mereka berperilaku menyimpang," tuturnya.

BACA JUGA: Menteri Yohana Prihatin Kekerasan Perempuan dan Anak Terus Meningkat

Kasus perilaku menyimpang pada anak-anak terbaru terjadi di Jateng, di mana mereka mengonsumsi air rendaman pembalut wanita. Sebelumnya juga sempat marak anak-anak mabuk dengan mengisap lem kaleng. "Perhatikan anak, jangan sampai ada perilaku menyimpang," kata Yohana.

Kementerian PPPA, kata dia, saat ini memiliki program untuk menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kekerasan harus diakhiri, baik dalam kaitan kekerasan secara fisik ataupun kekerasan seksual.

Selain itu, kasus perdagangan manusia juga menjadi salah satu program. Dalam human trafficking ini, perempuan dan anak kerap menjadi korban. "Kita harus akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan," tandasnya.

Untuk menekan kasus ini, Kementerian PPPA menggandeng kampus yang dianggap responsif gender agar ramah terhadap perempuan dan anak. Kampus diharapkan bisa menjadi pioneer dan ikut memberikan edukasi kepada masyarakat.

 


Editor : Kastolani Marzuki