Tradisi Grebeg Besar, Tujuh Gunungan Yogyakarta Diperebutkan di Tiga Tempat

Kuntadi ยท Senin, 12 Agustus 2019 - 15:45 WIB
Tradisi Grebeg Besar, Tujuh Gunungan Yogyakarta Diperebutkan di Tiga Tempat

Tradisi Gerebeg Besar yang menjadi rangkaian peringatan Idul Adha di Yogyakarta. (Foto: iNews.id/Kuntadi).

YOGYAKARTA, iNews.id – Keraton Yogyakarta menggelar tradisi Gerebeg Besar yang menjadi rangkaian peringatan Idul Adha, Senin (12/8/219). Tujuh gunungan diarak menuju Masjid Gede Kauman, Kepatihan, dan ke Puro Pakualaman Yogyakarta.

Kegiatan Garebeg Besar menjadi tradisi yang rutin dilaksanakan di Keraton Yogkarta Zulhijah. Nantinya gunungan tersebut akan diperebutkan warga.

Setidaknya ada tujuh gunungan yang dibawa, yakni Gunungan Kakung, Gunungan Estri, Gunungan Darat, Gunungan Pawuhan dan Gunungan Gepak.

BACA JUGA: Sambut Ramadan, Warga Kendal Berebut Gunungan 1.000 Lepet dalam Kirab Dugderan

"Setiap tahun selalu ada Garebeg Besar yang diawali dengan tradisi numplak wajik," kata Kabag Humas Biro Umum Humas dan Protokol, Sekretariat Daerah (Setda) DIY, Ditya Nanaryo Aji, di Kota Yogyakarta, DIY, Senin (12/8/2019).

Para prajurit keraton mengarak lima gunungan ke Masjid Kauman di sisi barat Alun-Alun Utara Yogyakarta. Sementara satu gunungan masing-masing dibawa ke kantor Gubernur (Kepatihan) dan ke Puro Pakualaman.

Setelah didoakan gunungan ini pun menjadi rebutan warga. Mereka percaya apapun yang mereka dapat dalam rebutan gunungan tersebut menjadi sebuah rezeki.

Mahfud MD, salah satu tokoh nasional yang hadir sekaligus penasihat Gubernur DIY mengatakan, grebegan itu merupakan upacara keagamaan yang berbasis budaya Islam. Tradisi ini hanya dilaksanakan di Yogyakarta dan Solo.

"Ternyata Islam itu bisa hidup di mana-mana, termasuk di keraton," ujar dia.

BACA JUGA: Grebeg Syawal, Ratusan Warga Berebut Gunungan Keraton Yogyakarta

Islam juga sudah dilaksanakan syariat-syaratnya oleh penduduk dan dikombinasikan di dalam variasi tampilannya, tanpa menghilangkan akidah keislaman. Kondisi ini menjadi simbol indahnya Bhineka Tunggal Ika yang menjadi rahmatan lil alamin.

Salah seorang warga, Rejo Wiyono, mengaku selalu datang untuk ikut berebut gunungan. Baginya hasil gunungan yang dia peroleh dalam rebutan ini dipercaya sebagai rezeki, yang merupakan pemberian dari Raja.

"Saya selalu datang untuk ikut rebutan. Ini berkah," ujarnya.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal