Tradisi Ruwatan Menoreh, Menghargai Alam dan menghormati Perbedaan

Kuntadi ยท Jumat, 16 November 2018 - 15:34 WIB
Tradisi Ruwatan Menoreh, Menghargai Alam dan menghormati Perbedaan

Warga Banjaroya Kalibawang makan bersama dalam Tradisi Ruwatan Menoreh tanpa memandang perbedaan agama. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id – Ratusan warga Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo bersama dengan Maskowi (Masyarakat Kerja Jokowi) menggelar Ruwatan Menoreh sebagai bentuk menghargai alam dan menghormati perbedaan, Kamis (16/11/2018). Tradisi ini menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi di Perbukitan Menoreh.

Selain itu, tradisi ini juga untuk meneguhkan kebersamaan, keberagaman, hidup berdampingan tanpa melihat adanya satu perbedaan. Tradisi ruwatan yang sudah menjadi acara rutin ini diselenggarakan di Situs Jati Kembar Dukuh Plengan, Desa Banjaroya, Kalibawang.

“Ini tradisi yang sudah tumbuh dalam dunia batin warga Menoreh,” kata Kepala Desa Banjaroya Anton Suprianto.

Menurutnya, tradisi ini menanamkan kebaikan kepada alam, mengajak masyarakat menjaga kelestarian hutan tanpa harus merusaknya. Begitu juga antarmasyarakat, tidak lagi ada sekat yang memisahkan. Meski berbeda agama dan keyakinan, namun masyarakatnya hidup rukun berdampingan.

Tradisi Ruwatan ini dilanjutkan dengan doa bersama lintas iman. Baik umat Islam dan Nasrani yang hadir menggelar doa bersama sesuai dengan keyakinan masing-masing.

“Di sini pemeluk Islam dan Katolik hidup damai berdampingan. Tradisi seni dan budaya dikembangkan dan diaktualisasikan bersama hingga saat ini,” ujarnya.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito mengatakan, Ruwatan Menoreh sebenarnya Metafor yang mengajarkan untuk senantiasa menjaga alam di tengah krisis ekologis yang mengancam ruang hidup masyarakat. Selain itu, Arie juga menyoroti bagaimana keharmonisan menjaga alam di Bumi Menoreh yang ternyata menginsipirasi masyarakat setempat untuk hidup harmonis meskipun mempunyai perbedaan agama.

"Di sini ada tradisi saling menopang. Perbedaan tidak ada masalah. Mereka berdoa bareng untuk kepentingan bangsa,” katanya.

Menurutnya, apa yang dilakukan masyarakat harus menjadi relevansi bangsa ini. Mereka harus bercermin dengan masyarakat bawah yang mempunyai kemauan dan kemampuan untuk membangun.  Namun yang terjadi justru dirusak oleh elit ekonomi, politik yang menggunakan segala cara.

“Ruwatan ini justru mengembalikan mereka untuk cinta alam. Kalau Indonesia belajar dari rakyat, pasti akan lebih baik,” tuturnya.


Editor : Donald Karouw