UGM Gratiskan Kuliah Mahasiswa Korban Gempa Sulteng dan Lombok

Kuntadi ยท Senin, 08 Oktober 2018 - 16:20 WIB
UGM Gratiskan Kuliah Mahasiswa Korban Gempa Sulteng dan Lombok

Mahasiswa UGM Yogyakarta asal Sulteng dan NTB saat mengikuti sarasehan bersama Rektor UGM Panut Mulyono di UC UGM. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

YOGYAKARTA, iNews.id – Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menggratiskan biaya kuliah bagi mahasiswa asal Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tengah (Sulteng) korban gempa bumi dan tsunami.

Untuk tahap awal ini, para siswa digratiskan dari biaya uang kuliah tunggal (UKT) selama satu semester. Mahasiswa yang menjadi korban juga akan dibantu pekerjaan paruh waktu.

“Untuk awal satu emester dulu. Nanti akan dievaluasi terkait kondisi keluarga masing-masing,” kata Rektor UGM Yogyakarta, Panut Mulyono di hadapan ratusan mahasiswa asal NTB dan Sulteng di Univercity Club (UC) UGM, Senin (8/10/2018).

Dia menjelaskan, keringanan biaya kuliah itu merupakan bentuk dan komitmen UGM dalam membantu para korban gempa dan tsunami. UGM juga telah menyalurkan bantuan di lokasi gempa dan menerunkan Tim Deru untuk membantu para korban di kedua Provinsi ini. 

BACA JUGA: Konsep Mobil Pintar Mahasiswa UGM Juarai Inovasi Teknologi di London

Bagi mahasiswa, juga akan diberikan fasilitasi pondokan dan penginapan bagi yang masih kesulitan biaya. Mereka menyiapkan asrama mahasiswa di utara Gedung Magister Managemen (MM) yang bisa ditempati untuk sementara waktu. Selain itu, akan menyiapkan pekerjaan paruh waktu di gedung pusat, fakultas maupun di departemen di sela-sela kesibukan kuliah.

“Kita juga bantu mereka menjadi tenaga administrasi paruh waktu, dengan harapan mereka mendapat honor yang bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” kata Panut. 

Menuru Panut, UGM siap menerima mahasiswa dari kampus di daerah bencana untuk belajar di UGM. Kesempatan belajar ini menjadi fasilitasi bidang pendidikan dan pengajaran bagi mahasiwsa di daerah tetap berlangsung. “Duka Palu dan Lombok adalah duka kita semua, kita bahu membahu membantu agar bisa kembali ke dalam kehidupan normal seperti sebelumnya,” katanya.

Salah satu mahasiswa asal Lombok, Faesal Fathurahman, mengatakan kebijakan yang diberikan kepada mahasiswa sangatlah meringankan. Sebab keluarganya di Lombok telah menjadi korban gempa. “Kita sangat terbantu dengan kebijakan UGM seperti ini,” ucap mahasiswa Fisipol ini.

Hal senada juga disampaikan Angga Pradan. Mahasiswa Fisipol UGM dari Palu itu berharap kebijakan tersebut tidak hanya satu semester. Namun bisa diperpanjang, karena keluarga di Palu butuh masa recovery yang lama.  

 


Editor : Kastolani Marzuki