Ungkap Kasus Perkosaan Mahasiswi UGM, Polda DIY Langsung ke Maluku

Kuntadi · Senin, 21 Januari 2019 - 19:17 WIB
Ungkap Kasus Perkosaan Mahasiswi UGM, Polda DIY Langsung ke Maluku

Mahasiswa UGM menggelar aksi bertajuk UGM Darurat Kekerasan Seksual sebagai keprihatinan atas kasus pemerkosaan mahasiswi UGM saat KKN di Maluku, Kamis (8/11/2018). (Foto: iNews/Heru Trijoko)

SLEMAN, iNews.id – Penyidik Polda DIY masih menyelidiki kasus dugaan pemerkosaan yang menimpa mahasiswi UGM, Al, pada 2017 silam. Polisi bahkan langsung ke lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) korban di Seram, Maluku. Setidaknya sudah ada 26 orang saksi yang dimintai keterangan.

“Sudah ada 26 saksi yang kami mintai keterangan dan ada lima orang yang berasal dari Maluku. Sebelum akhir bulan, penyidik akan melakukan gelar perkara terkait hasil penyelidikan,” kata Kabid Humas Polda DIY AKBP Yulianto di Mapolda DIY Senin (21/1/2019).

Yulianto mengatakan, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda DIY Kombes Pol Hadi Utomo telah berangkat ke Seram pada Minggu lalu dan baru tiba di sana pada hari ini, untuk melakukan penyelidikan. Untuk sampai di lokasi dari Kota Ambon butuh waktu satu hari untuk perjalanan.

BACA JUGA:

Kasus Pelecehan Mahasiswi UGM, Kuasa Hukum Minta Kampus Sanksi Korban

Kasus Pemerkosaan Mahasiswi UGM, Polda DIY Sudah Periksa 19 Saksi

Di sana, Dirreskrimum Polda DIY Kombes Pol Hadi Utomo juga mengecek rumah yang menjadi lokasi kejadian hingga setiap sudut kamar. Selain itu, mengumpulkan warga kampung setempat untuk mendengarkan kesaksian mereka mengenai bagaimana peristiwa itu terjadi.

“Ada lima orang yang menyampaikan keterangan terkait kasus dugaan pemerkosaan itu,” ujar Hadi.

Hadi tidak bisa menyeburkan mereka ini siapa saja demi alasan penyelidikan. Namun penyidik kemungkinan akan menjelaskan para saksi yang diperiksa.  

Hingga kini penyidik masih terus mengumpulkan alat bukti dan keterangan dari sejumlah saksi. Bahkan, sejumlah pakar hukum sudah diajak berkomunikasi untuk mengkaji dugaan kasus perkosaan ataupun pencabulan, baik dari Universitas Indonesia (UI) maupun dari Universitas Airlangga.

Hadi juga mengajak masyarakat untuk berhenti menyebarkan berita bohong terkait kasus itu. “Janganlah menyebarkan berita yang sumbernya tidak benar,” ujarnya.


Editor : Maria Christina