Aktivitas Pengeboran AS Turun, Harga Minyak Naik Tipis

Ranto Rajagukguk ยท Senin, 17 Desember 2018 - 08:38:00 WIB
Aktivitas Pengeboran AS Turun, Harga Minyak Naik Tipis
Ilustrasi. (Foto: iNews.id/Yudistiro Pranoto)

SINGAPURA, iNews.id - Harga minyak naik tipis di tengah penurunan aktivitas pengeboran di Amerika Serikat (AS). Namun, kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju menahan kenaikan harga secara cepat.

Mengutip Reuters, Senin (17/12/2018), minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 15 sen atau 0,3 persen menjadi 51,35 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

"Meskipun OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak) dan Rusia setuju untuk mengurangi produksi minyak sebanyak 1,2 juta barel lebih per hari pada pertemuan baru-baru ini, namun pasar masih mencari keseimbangan baru," kata Bank ANZ.

"Bahkan penurunan jumlah rig tidak dapat menghilangkan kekhawatiran ini."

Produsen pengeboran AS memangkas penggunaan empat rig minyak dalam sepekan hingga 14 Desember, menjadi total 183 unit, General Electric Co (GE.N) Baker Hughes perusahaan jasa energi mengatakan pada Jumat.

OPEC dan sekutunya yang dipimpin Rusia telah sepakat untuk memangkas produksi mulai Januari tahun depan sebesar 0,8 juta barel per hari (bph), sementara produsen non-OPEC berkontribusi sebesar 0,4 juta bph. Hal ini kemudian akan dievaluasi ulang pada pertemuan pada April tahun depan.

"Pasar minyak tengah mencari arah pasca-OPEC dan para traders mencermati stok minyak AS untuk mengukur produksi shale oil-nya," kata Stephen Innes, kepala perdagangan untuk Asia-Pasifik di broker berjangka Oanda di Singapura.

"Semakin OPEC mencoba untuk mengurangi pasokan dan mendorong harga lebih tinggi semakin besar peluang produsen shale oil AS untuk meningkatkan produksi."

Tumbuhnya kekhawatiran tentang melemahnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara seperti China dan Eropa juga memberi sentimen negatif bagi pasar minyak. Produksi olahan kilang minyak China pada November turun dari Oktober, menunjukkan adanya perlambatan permintaan minyak. Sementara produksi industri negara itu naik selama hampir tiga tahun karena perkembangan ekonomi terus di bawah ekspektasi.

Sementara itu, aktivitas bisnis Prancis terjun tak terduga dan mengalami kontraksi, sementara ekspansi sektor swasta Jerman melambat ke level terendah empat tahun pada bulan Desember.

Editor : Ranto Rajagukguk