Ekonom Ingatkan Pemerintah Tak Salah Langkah dalam Penyesuaian PSBB

Aditya Pratama ยท Jumat, 22 Mei 2020 - 12:11 WIB
Ekonom Ingatkan Pemerintah Tak Salah Langkah dalam Penyesuaian PSBB

Pengamat ekonomi Indef, Bhima Yudhistira Adinegara. (Foto: iNews.id/Rully Ramli)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah berwacana melakukan penyesuaian Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Adapun Provinsi DKI Jakarta akan menjadi lokasi percontohan didasari dengan statistik angka reproduksi efektif (Rt) virus corona (Covid-19) yang telah berada lebih kecil dari level 1.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira mengingatkan agar pemerintah tidak melakukan kesalahan dalam penyesuaian PSBB itu. Pasalnya, jika keputusan yang dilakukan tidak tepat kemungkinan akan memperlambat pemulihan ekonomi.

"Kebijakan pelonggaran yang tidak tepat dampaknya ada dua. Pemulihan ekonomi berjalan lebih lama dari perkiraan awal dan konsumen khawatir dengan adanya gelombang kedua, berarti keluar rumah akan berisiko tertular virus," ujar Bhima kepada iNews.id, Jumat (22/5/2020).

Menurut Bhima, tidak semua tempat kegiatan perekonomian telah dibekali protokol kesehatan yang memadai. Oleh karena itu, jika penyesuaian PSBB dilakukan dengan tidak tepat dan tidak memerhatikan kurva positif Covid-19 dikhawatirkan memicu kepanikan di konsumen menengah dan atas.

"Ini nanti buat pengusaha rugi juga, mau jualan konsumennya berkurang, biaya operasional jalan terus. Pabrik pun jadi tidak optimal kapasitas produksinya karena buruh rentan terpapar gelombang kedua," kata dia.

Selain itu, dia meminta pemerintah untuk menghitung biaya kesehatan yang membengkak jika terdapat gelombang kedua nantinya. Menurutnya, pemerintah juga harus berhati-hati dan tidak sekadar menyelamatkan APBN semata.

"Kalaupun nanti dilonggarkan protokol kesehatan harus merata, warung kecil juga harus disosialisasikan dan diberikan hand sanitizer plus masker gratis. Jadi ketika bilang new normal, semua pedagang UMKM wajib mendapatkan protokol kesehatan yang layak," ucapnya.

Editor : Ranto Rajagukguk