Ekonomi Global Melambat, Harga Batu Bara Acuan Mei Turun Jadi 61,11 Dolar AS

Djairan ยท Minggu, 10 Mei 2020 - 11:16 WIB
Ekonomi Global Melambat, Harga Batu Bara Acuan Mei Turun Jadi 61,11 Dolar AS

Melambatnya perekonomian global akibat pandemi Covid-19 berdampak pada turunnya permintaan batu bara. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Melambatnya perekonomian global akibat pandemi Covid-19 berdampak pada turunnya permintaan batu bara dari negara-negara konsumen utama batu bara di kawasan Asia antara lain China, Korea Selatan, India dan Jepang. Hal inilah yang menjadi penyebab utama turunnya Harga Batubara Acuan (HBA) untuk bulan Mei 2020 ke angka 61,11 dolar Amerika Serikat (AS) per ton.

"Ekonomi global yang melambat menyebabkan HBA bulan Mei kembali turun dari bulan sebelumnya. Turun 4,66 dolar AS menjadi 61,11 dolar AS. Bulan April angkanya di 65,77 dolar AS per ton," ucap Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dikutip Minggu (10/5/2020).

Agung menyebut, penurunan harga batu bara sudah terjadi selama dua bulan terakhir. Sejak bulan Januari 2020, HBA mengalami fluktuasi. 

Mencatatkan angka di 65,93 dolar AS per ton pada Januari (turun dari 66,30 dolar AS di Desember 2019), kemudian naik di Februari (66,89 dolar AS) dan Maret (67,08 dolar AS), dan mengalami penurunan di April dan Mei. "Trennya untuk dua bulan terakhir ini kembali turun," ujarnya.

Penurunan HBA bulan Mei 2020 juga dipicu penurunan harga minyak dunia yang berpengaruh pada turunnya harga batu bara di pasar internasional. Empat indeks harga batu bara yang umum digunakan dalam perdagangan batu bara dunia terpantau mengalami penurunan, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya.

Nilai HBA sendiri diperoleh rata-rata empat indeks harga batu bara dunia tersebut. HBA bulan Mei 2020 ini akan digunakan untuk penjualan langsung (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

Editor : Ranto Rajagukguk