Ernst & Young Ragukan Masa Depan Bisnis AirAsia

Djairan ยท Rabu, 08 Juli 2020 - 23:05:00 WIB
Ernst & Young Ragukan Masa Depan Bisnis AirAsia
Prospek bisnis masa depan maskapai berbiaya rendah terbesar di Asia, AirAsia, mulai diragukan. (Foto: Antara)

KUALA LUMPUR, iNews.id - Prospek bisnis masa depan maskapai berbiaya rendah terbesar di Asia, AirAsia, mulai diragukan. Hal ini seiring dengan saham perusahaan yang tercatat turun lebih dari 10 persen, pada Rabu (8/7/2020).

Auditor Ernst & Young mengutarakan hal tersebut dalam sebuah pernyataan di bursa saham Kuala Lumpur, Selasa (7/7/2020), malam. Auditor ini juga menyoroti utang besar maskapai penerbangan tersebut. Kewajiban lancar AirAsia telah melebihi aset lancarnya sebesar 1,84 miliar ringgit (Rp6,2 triliun) pada akhir 2019, sebelum adanya pandemi corona.

“Kemerosotan ini dan kinerja keuangan AirAsia, mengindikasikan adanya ketidakpastian yang dapat menimbulkan keraguan signifikan pada kemampuan grup dan perusahaan untuk terus berlanjut," ujar Ernst & Young dalam pernyataan opini audit tanpa pengecualian, dikutip dari BBC Rabu (8/7/2020).

Pada Senin lalu, AirAsia melaporkan rekor kerugian kuartal II 2020 mencapai 803,8 juta ringgit (Rp2,7 triliun). Jumlah tersebut juga dipicu karena AirAsia menangguhkan penerbanganya mulai akhir Maret 2020.

"Ini adalah tantangan terbesar yang kami hadapi, sejak saya menjadi CEO mulai tahun 2001. Setiap krisis adalah rintangan yang harus diatasi, dan kami telah lakukan restrukturisasi agar perusahaan lebih ramping dan kencang," ujar CEO AirAsia Tony Fernandes.

Pria yang juga ikut memiliki klub sepakbola Queens Park Rangers (QPR) di Inggris itu menyebutkan, perusahaan telah menurunkan beban keuangan setidaknya 50 persen untuk tahun ini. Hal itu membuatnya optimistis, AirAsia bisa lebih kuat sebagai maskapai berbiaya rendah terkemuka di kawasan Asia.

Pihaknya juga sedang dalam pembicaraan mengenai usaha patungan dan kolaborasi, yang dapat menghasilkan investasi tambahan. AirAsia juga telah mengajukan pinjaman bank, dan sedang mempertimbangkan proposal untuk meningkatkan modal tambahan.


Editor : Ranto Rajagukguk