Harga Karet Tak Wajar, RI Galang Dukungan dari Malaysia dan Thailand

Rully Ramli ยท Jumat, 11 Januari 2019 - 19:03 WIB
Harga Karet Tak Wajar, RI Galang Dukungan dari Malaysia dan Thailand

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution. (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Harga karet di pasar internasional masih rendah meski beberapa minggu terakhir mulai naik. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah berencana menggandeng Malaysia dan Thailand yang juga produsen karet.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan pasokan karet sebenarnya tidak berlebih. Namun, harganya tidak kunjung naik.

"Kemudian ditelusuri, dimana sih ditentukan harga karet. Ternyata di dua tempat, satu di bursanya Singapura, kedua bursanya China, Shanghai," ujar dia di kantornya, Jakarta, Jumat (11/12019).

Hal ini membuat Menko Darmin menduga ada spekulan yang mempermainkan informasi supaya harga karet tetap rendah. Untuk itu, dia akan mengajak negara-negara produsen karet untuk menstabilkan harga karet.

"Kita sedang galang komunikasi dengan Thailand, baik pemerintah dan asosiasi, begitu juga dengan Malaysia. Kelihatannya ada yang perlu dibicarakan dengan mereka supaya harga sesuai supply dan demand," ujar Menko Darmin.

Dia mengaku sudah mengajak Vietnam dan China yang juga produsen karet, namun ditolak. Untuk itu, kata Indonesia, bersama Malaysia dan Thailand akan berkunjung ke bursa Singapura dan Shanghai guna membicarakan masalah ini.

Selain menjalin komunikasi, Mantan Gubernur Bank Indonesia itu mengatakan, pemerintah tengah mendorong penggunaan karet sebagai  bahan campuran aspal. Namun, karet dari petani perlu ditingkatkan kualitasnya sehingga harga yang dibeli BUMN lebih tinggi dari harga saat ini di kisaran Rp6.000 per ton.

"Kita juga tengah mendorong menggunakan karet untuk penggunaan lain yang tidak biasa, soal aspal. Biaya mungkin sedikit naik, tapi daya tahan lebih lama, sehingga masih ada benefit-nya," tutur dia.


Editor : Rahmat Fiansyah