Indonesia Bidik Pangsa Pasar Fashion dan Kerajinan Tangan di AS

Antara ยท Jumat, 24 Juli 2020 - 22:29 WIB
Indonesia Bidik Pangsa Pasar Fashion dan Kerajinan Tangan di AS

Kemendag melalui Indonesian Trade Promotion Center Los Angeles (ITPC LA) berupaya meningkatkan pangsa pasar fashion dan kerajinan tangan AS di tengah pandemi Covid-19. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Indonesian Trade Promotion Center Los Angeles (ITPC LA) berupaya meningkatkan pangsa pasar fashion dan kerajinan tangan (handicraft) Amerika Serikat (AS) di tengah pandemi Covid-19. Kondisi ini telah menyebabkan penurunan nilai impor AS dari beberapa negara mitranya, termasuk Indonesia.

“Kami terus berupaya meningkatkan ekspor dengan cara-cara yang lebih kreatif untuk mempertahankan pangsa pasar fashion dan kerajinan tangan di AS, khususnya di tengah pandemi Covid-19,” kata Kepala ITPC Los Angeles Bayu Nugroho lewat keterangannya, Jumat (24/7/2020).

Pada 2019, AS mengimpor produk pakaian dari dunia sebesar 84,7 miliar dolar AS atau naik 1,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia berada di posisi ke-4 negara pengekspor pakaian ke AS dengan total 4,43 miliar dolar AS. Dari nilai tersebut, ekspor Indonesia ke AS untuk pakaian berbahan rajut mencapai 2,21 miliar dolar AS dan pakaian berbahan bukan rajut mencapai 2,22 miliar dolar AS.

Wilayah Pantai Barat AS, khususnya California, menyumbang 58,71 persen atau senilai 1,38 miliar dolar AS dari total nilai ekspor pakaian Indonesia ke AS.

Pantai Barat AS merupakan wilayah kerja ITPC LA yang mencakup wilayah kerja dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Los Angeles, KJRI San Francisco, dan KJRI Houston yang terdiri atas 21 negara bagian.

Pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke-7 negara pengekspor kerajinan tangan terbesar ke AS dengan total ekspor mencapai 482 juta dolar AS.

Nilai ini meningkat sebesar 41,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 340 juta dolar AS. Adapun produk kerajinan tangan tersebut yaitu produk berbahan kulit, tas, dan barang kebutuhan perjalanan (travel goods).

“Kenaikan nilai ekspor Indonesia, khususnya produk fesyen dan kerajinan tangan merupakan momentum yang baik bagi pemerintah untuk terus memaksimalkan peluang ekspor produk nasional,” kata Bayu.

Salah satu upaya yang dilakukan ITPC LA yaitu dengan menggelar kegiatan penjajakan kesepakatan dagang (business matching) secara virtual untuk produk fashion dan kerajinan tangan. Bayu menilai saat ini merupakan waktu yang tepat bagi pemerintah Indonesia mendorong kinerja ekspor Indonesia ke AS dan membuktikan memiliki produk berkualitas dengan harga bersaing.

Editor : Dani Dahwilani