Indonesia Siap Buka Jasa Layanan Bunkering Marine Fuel Oil di Selat Sunda

Anggie Ariesta ยท Rabu, 04 Agustus 2021 - 21:42:00 WIB
Indonesia Siap Buka Jasa Layanan Bunkering Marine Fuel Oil di Selat Sunda
CEO Krakatau International Port, Akbar Djohan, dan Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga, Hasto Wibowo, menandatangani naskah kerja sama Bisnis Bunkering Marine Fuel Oil, di Jakarta, Rabu (4/8/2021). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Indonesia siap membuka jasa layanan bunkering marine fuel oil di Selat Sunda. Hal itu, ditandai dengan penandatangan kerja sama antara PT Krakatau Bandar Samudera (Krakatau International Port) dengan PT Pertamina Patra Niaga

Penandatanganan kerja sama Bisnis Bunkering Marine Fuel Oil (MFO) di Krakatau International Port dan di beberapa wilayah perairan strategis Indonesia itu, berlangsung di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Jakarta, Rabu (4/8/2021). 

CEO Krakatau International Port, Akbar Djohan, dan Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga, Hasto Wibowo, melakukan penandatanganan naskah kerja sama, disaksikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves, Basilio Dias Araujo.

Menurut Akbar, pelayanan jasa Bunkering MFO di Krakatau International Port ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat Indonesia sebagai poros maritim, khususnya di wilayah perairan strategis Indonesia seperti di Selat Sunda. 

“Kerja sama ini merupakan komitmen Krakatau International Port untuk memberikan pelayanan yang terbaik khususnya melayani kapal-kapal yang melintasi perairan Selat Sunda yang ingin melakukan pengisian bahan bakar,” ujar Akbar dalam keterangan yang diterima, Jakarta, Rabu (4/8/2021). 

Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves, Basilio Dias Araujo, mengatakan bahwa Nota Kesepahaman ini merupakan realisasi komitmen Indonesia untuk menciptakan dan meningkatkan pelayanan jasa Bunkering MFO di berbagai pelabuhan strategis di Indonesia. 

“MFO dengan kandungan sulfur maksimal 0,5 persen mass by mass (m/m) ini merupakan bahan bakar kapal yang sesuai dengan mandatori International Maritime Organization (IMO) mengenai bahan bakar kapal dengan kadar sulfur maksimal 0,5 persen wt yang berlaku mulai 1 Januari 2020,” kata Basilio.

Dia mengestimasikan sekitar 173 miliar dollar Amerika Serikat opportunity loss dari jasa bunkering, crew change, dan penyediaan logistik dari kapal-kapal yang melewati Selat Malaka, Selat Singapura, Selat Sunda, dan Selat Lombok. 

Berdasarkan data 2020, jumlah kapal yang melintas di sepanjang Selat Sunda sebanyak 53.068 kapal (dengan 150 kapal melintas per harinya), sedangkan di jalur Selat Malaka dan Selat Singapura berkisar 120.000 kapal (dengan 350 kapal melintas per harinya di Selat Malaka)

Deputi Basilio mengatakan pihaknya telah siapkan hot spots beberapa Pelabuhan Strategis di sepanjang selat-selat tersebut dengan bisnis MFO ini. 

“Kami yakin, kerja sama ini dapat meningkatkan penerimaan negara dan keuntungan luar biasa terutama untuk revenue negara, kesejahteraan masyarakat, dan yang terpenting Indonesia siap dan mampu untuk memberikan layanan jasa MFO di wilayah perairan strategis kita. Ke depannya, pelabuhan di Indonesia bisa memberikan pelayanan terbaik dan mampu bersaing dengan negara tetangga lainnya,” ujar Basilio.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga, Hasto Wibowo mengatakan menyambut baik kerjasama ini. Melalui kerja sama bisnis bunkering MFO tersebut, pengembangan potensi ekonomi melalui pelayanan jasa tersebut berbagai pelabuhan strategis di Indonesia akan semakin meningkatkan profile Kepelabuhanan Indonesia sekaligus memperkuat posture energi Indonesia khususnya penyediaan Bahan Bakar Kapal MFO Sulfur rendah 180 cSt (centistockes) bersama Pertamina Group.

"Spiritnya program ini harus segera dimulai, harapannya dalam 6-12 bulan ke depan akan banyak kapal-kapal ocean going yang melakukan bunkering di KIP,” kata Hasto. 

Editor : Jeanny Aipassa