Izin Terbang Khusus di Tengah Larangan Mudik Dinilai Bentuk Diskriminasi

Sindonews ยท Jumat, 01 Mei 2020 - 10:50 WIB
Izin Terbang Khusus di Tengah Larangan Mudik Dinilai Bentuk Diskriminasi

Pengamat penerbangan, Alvin Lie. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Langkah pemerintah melonggarkan aturan larangan mudik untuk moda transportasi udara dikritik. Pelonggaran tersebut dinilai diskriminatif terhadap moda transportasi lain.

Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan, setiap aturan baru terkait larangan mudik seharusnya merujuk pada niat dan tujuan awal terbitnya Peraturan Kementerian Perhubungan (Permenhub) Nomor 25 Tahun 2020) yang ingin mencegah penyebaran Covid-19 dari zona merah.

“Yang diatur perjalanan keluar masuk ke wilayah PSBB dan zona merah. Tinggal kita mau konsisten atau tidak. Kalau konsisten ya sudah terapkan saja tanpa kecuali,” ujarnya, Jumat (1/5/2020).

Alvin mempertanyakan izin ini seolah-olah mengistimewakan moda transportasi udara dan perbisnis. Dia menyebut kalau yang dimaksud pebisnis kargo itu barangnya yang dikirim, bukan orangnya.

Soal syarat-syarat yang harus dipenuhi penumpang yang bisa terbang, dia mengatakan, saat ini bukan perkara sulit membuat surat. Oleh karena itu, dia memprediksi adanya ketidakseragaman penerapan aturan larangan mudik akan berdampak pada bingungnya pelaksana di lapangan.

“Ini suatu diskriminasi kenapa hanya udara. Yang naik kereta, mobil dan kapal bagaimana. Ini jelas ada pengabaian terhadap rasa keadilan. Bagaimana terhadap yang naik bus dan sudah sampai di Jatim, lalu disuruh putar balik. Ini keadilannya dimana?” kata anggota Ombudsman itu.

Moda transportasi udara sebelumnya diizinkan untuk terbang dengan syarat khusus. Maskapai Lion Air menjadi yang pertama yang mendapat izin khusus untuk mengangkut penumpang yang bukan dalam rangka mudik.

Sejumlah syarat perlu dipenuhi penumpang yaitu keterangan sehat dan negatif dari Covid-19 dari rumah sakit dan surat keterangan dari instansi yang menyatakan keberangkatannya bukan untuk mudik. (Fahmi Bahtiar)

Editor : Rahmat Fiansyah