Jelang Nataru, BPOM Temukan 41.306 Produk Tak Penuhi Ketentuan Senilai Rp867,42 Juta

Iqbal Dwi Purnama · Jumat, 24 Desember 2021 - 18:02:00 WIB
Jelang Nataru, BPOM Temukan 41.306 Produk Tak Penuhi Ketentuan Senilai Rp867,42 Juta
Jelang Nataru, BPOM temukan sebanyak 41.306 pcs produk yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) dengan nilai keekonomian sebesar Rp867,42 juta. (Foto: Ilustrasi/Ist)

JAKARTA, iNews.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan sebanyak sebanyak 41.306 pcs produk yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) dengan nilai keekonomian sebesar Rp867,42 juta. Temuan produk didominasi oleh pangan kedaluwarsa 53 persen, diikuti oleh temuan produk Tanpa Izin Edar/TIE 31,3 persen, serta produk rusak 15,7 persen.

Kepala Badan POM Penny K. Lukito menjelaskan, BPOM melalui 73 Unit Pelaksana Teknis (UPT) melakukan intensifikasi pengawasan makanan secara serentak di seluruh Indonesia saat memasuki musim libur Natal dan Tahun Baru 2022 (Nataru).

Menurutnya, jelang perayaan Natal dan Tahun Baru belanja masyarakat terutama produk pangan olahan makanan dan minuman (mamin) selalu meningkat. Untuk itu perlu dilakukan pengawasan agar tidak ada oknum memanfaatkan momen tinggi konsumsi masyarakat di pasar.

"Sebagai upaya memberikan keamanan dan ketenangan bagi masyarakat dalam berbelanja pangan olahan secara online, tahun ini intensifikasi pengawasan diperluas pada sarana gudang e-commerce, di samping pelaksanaan cyber patrol,” ujar Penny dalam konferensi secara virtual, Jumat (24/12/2021).

Adapun pengawasan tersebut memiliki target terhadap pangan Tanpa Izin Edar (TIE) atau ilegal, pangan kedaluwarsa, dan pangan rusak. Hasil intensifikasi pengawasan pangan olahan dari awal sampai minggu ketiga Desember 2021 meliputi pengawasan pada 1.975 sarana peredaran pangan olahan yaitu pada 49 importir, 406 distributor, 1.511 ritel, dan 9 gudang e-commerce.

Dari jumlah tersebut BPOM menemukan sarana peredaran pangan dengan kategori TMK sebanyak 631 atau 32 persen, yang terdiri dari 0,3 persen importir, 1,7 persen distributor, dan 30 persen ritel yang mencakup ritel modern dan tradisional. 

Dari jumlah tersebut terjadi penurunan sebesar 5,2 persen proporsi temuan sarana peredaran TMK pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020 yang angkanya mencapai 37,2  persen, sedangkan tahun ini terdapat 32 persen.

Jumlah temuan produk TMK dari tahun 2020 ke tahun 2021 secara signifikan mengalami penurunan. Penurunan temuan TMK tersebut mengindikasikan adanya peningkatan kepatuhan dan pemahaman pelaku usaha di bidang distribusi/peredaran pangan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.

Editor : Aditya Pratama

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda