Jokowi: Saya Ditakuti-takuti Papua Pecah kalau Freeport Diambil Alih

Antara ยท Rabu, 10 April 2019 - 16:32 WIB
Jokowi: Saya Ditakuti-takuti Papua Pecah kalau Freeport Diambil Alih

Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo bersama Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri saat kampanye pemilu serentak 2019. (Foto: Ant)

PROBOLINGGO, iNews.id - Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) mengungkap cerita di balik langkah pemerintah mengambil alih mayoritas saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Dia mengaku sempat ditakut-takuti.

“Saya ditakut-takuti waktu mau ambil Freeport. Pak Presiden hati-hati kalau mau ambil Freeport. Hati-hati seperti apa? Hati-hati kalau bapak berani ambil Freeport, Papua akan goncang," kata Jokowi di Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (10/4/2019).

Dia mengaku tidak takut untuk mengambil alih PTFI yang saat itu dikuasai perusahaan AS, Freeport McMoRan. Dia yakin masyarakat Papua akan mendukung langkah yang diambilnya.

"Saya ke Papua, kok biasa-biasa saja. Enggak masalah,” kata Jokowi.

Selain itu, Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengklaim bahwa pemerintah AS tidak pernah mengintervensi Indonesia soal PTFI. Hal ini, kata dia, proses pengambilalihan PTFI merupakan wilayah bisnis.

“Saya ketemu Obama saat proses pengambilalihan, enggak ngomong sama saya juga. Ketemu Presiden sekarang Trump, enggak nyinggung-nyinggung juga. Itu urusan bisnis, enggak ada yang masalahkan itu,” kata dia.

Atas dasar itulah, Jokowi jalan terus dengan keputusannya. Dia meminta Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya untuk melanjutkan proses negosiasi dengan induk PTFI.

“Saya tugasi tiga menteri, mereka bertanya ke saya diteruskan apa enggak ini? Saya jawab teruskan,” kata Jokowi.

Faktanya, perjuangan tersebut membuahkan hasil ketika pada akhir 2018, PTFI berhasil diambil alih 51 persen sahamnya oleh Indonesia lewat PT Inalum (Persero). Jokowi menilai perlu keberanian besar untuk mengambil langkah tersebut.

Dia pun menyesalkan ketika ada pihak-pihak yang menuduhnya sebagai antek asing. Padahal, yang dilakukannya selama ini selalu mementingkan bangsa.

“Saya pikir ini antek asing yang mana. Saya diam. Coba libat 2015 yang namanya Blok Mahakam, blok minyak terbesar sudah 50 tahun dikuasai Jepang-Prancis. Sejak 2015 sudah diserahkan 100 persen ke Pertamina. Itu dituding antek asing,” ucap dia.


Editor : Rahmat Fiansyah