Kurangi Limbah Pangan Indonesia yang Terbanyak ke-2 di Dunia, DamoGO Bidik Industri F&B

Michelle Natalia ยท Jumat, 15 Oktober 2021 - 20:40:00 WIB
Kurangi Limbah Pangan Indonesia yang Terbanyak ke-2 di Dunia, DamoGO Bidik Industri F&B
Ilustrasi aplikasi DamoGo. (Foto: Istimewa)

YOGYAKARTA, iNews.id -  DamoGO, startup asal Indonesia-Korea Selatan, menawarkan aplikasi untuk mengurangi limbah pangan yang secara khusus membidik industri Food and Beverage (F&B). 

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Indonesia merupakan negara penghasil limbah pangan kedua terbesar di dunia setelah Arab Saudi. Total limbah pangan Indonesia per tahun mencapai 1,3 juta ton, atau sekitar 300 kg per orang. 

Kontradiktif dengan jumlah pangan yang terbuang, Indonesia saat ini masih mengalami problem ketahanan pangan, seperti pemenuhan gizi yang tidak sempurna yang menyebabkan malnutrisi. 

Terkait dengan itu, DamoGO, menggabungkan teknologi dan kreativitas yang menciptakan aplikasi smartphone bagi pebisnis F&B untuk terhubung dengan pemasok. Melalui aplikasi dan layanannya, DamoGO ingin mengoptimasi penyerapan bahan pangan sambil mengurangi limbah pangan di sektor industri F&B. 

"Upaya kolektif para pebisnis F&B dan perubahan yang holistik dirasa perlu untuk turut menyelesaikan permasalahan ini dan mendukung ketahanan pangan Indonesia," kata Muhammad Farras, Co-founder dan COO DamoGO,  dalam webinar yang bertajuk ‘Create Taste, Not Waste’ pada Jumat(15/10/2021).

Menurut dia, terdapat sejumlah inefisiensi di lapangan yang membuat hasil pertanian tidak terserap baik dan berisiko terbuang menjadi limbah dan polusi. 

Untuk itu, DamoGO berusaha memecahkan masalah ini dengan menyediakan layanan penghubung antara pemasok dan pebisnis F&B di Yogyakarta melalui aplikasi smartphone, yang bertujuan untuk mempermudah proses pembelian bahan makanan secara digital, mengoptimasi serapan dan konsumsi hasil pertanian agar tidak terbuang.

Farras menjelaskan, sistem manajemen dan purchasing untuk mengoptimasi serapan Aplikasi DamoGO berperan membantu pemilik bisnis F&B untuk merapikan sistem manajemen dan purchasing. 

Melalui aplikasi ini, lanjutnya, manajemen dapur pebisnis F&B ter-digitalisasi, dan menjadi ruang interaksi jual-beli bahan pangan antara pebisnis dengan pemasok. 

Aplikasi ini juga mendorong pebisnis F&B untuk menerapkan operasional bisnis berkelanjutan dan efisien, dengan mempersingkat proses rantai pasok, mengurangi emisi dan biaya, serta mendukung keberlangsungan bisnis petani dan pemasok skala kecil dan menengah.

Hartono Moe, seorang F&B Business Collaborator, menekankan bahwa penggunaan imperfect produce menjadi salah satu cara bagi industri F&B agar ramah lingkungan atau berkelanjutan. 

Bahan pangan yang tidak sempurna secara fisik atau imperfect produce tidak akan mempengaruhi kualitas sajian sehingga tetap baik untuk digunakan. Dengan harga yang terjangkau, pemilihan bahan pangan yang tidak sempurna mendukung bisnis F&B untuk menghemat biaya operasional. 

"Aplikasi yang disediakan oleh DamoGO berhasil mengefisienkan proses pembelian produk tidak sempurna dan mengurangi biaya operasional, menjadi dukungan yang baik untuk mempermudah transisi bisnis F&B jadi berkelanjutan," ungkap Hartono.

WAROONG by DamoGO, salah satu layanan dari DamoGO, menyediakan produk pangan dengan grade yang luas, dari grade a, grade b sampai grade c, yang dipanen segar oleh petani dan pemasok DamoGO. 

Salah satu bentuk produk pangan grade c adalah imperfect produce, yaitu hasil pertanian yang tidak sempurna dari segi bentuk atau ukuran. Produk jenis ini menjadi penyumbang limbah pangan yang signifikan karena tidak sesuai dengan standar ritel dan pada akhirnya terbuang sebelum dimanfaatkan. 

Farras mengungkapkan, DamoGO berharap keberadaan teknologi yang diciptakan tidak hanya mendukung geliat bisnis F&B dan para pemasok. Dengan mengoptimasi serapan dan konsumsi hasil produk pangan, termasuk imperfect produce, dapat berperan dalam menyelesaikan permasalahan pangan dan dukung ketahanan pangan Indonesia. 

“Mulai dari Kota Yogyakarta, DamoGO berharap bisa mendorong industri F&B yang berkelanjutan di Indonesia,” tutur Farras. 

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel: