Kurangi Risiko Gagal Bayar, AFPI Luncurkan Fintech Data Center

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Senin, 11 November 2019 - 15:20 WIB
Kurangi Risiko Gagal Bayar, AFPI Luncurkan Fintech Data Center

Perayaan satu tahun Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). (Foto: iNews.id/Isna Rifka Sri Rahayu)

JAKARTA, iNews.id - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) meluncurkan Fintech Data Center (FDC), sebuah sistem data terintegrasi nasabah yang dikumpulkan dari para anggotanya. Keberadaan sistem ini untuk memperkuat credit scoring sehingga risiko gagal bayar berkurang.

Ketua Umum AFPI Adrian Gunadi mengatakan, seluruh anggota AFPI wajib menyetorkan data ke FDC sehingga semakin banyak anggota yang bergabung maka semakin akurat data yang ada. Dia menyebut, integrasi data ini penting dan menguntungkan anggota karena lebih mudah untuk mengetahui portofolio calon nasabah.

"Tujuan dibentuknya FDC ini pastinya terkait data yang lebih terintegrasi di industri fintech P2P. Kita bisa memonitor secara real time terkait data portofolio secara keseluruhan. Tentu ini berkaitan dengan fungsi asosiasi dalam menjalankan market supervisor," ujarnya di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (11/11/2019).

Dengan data yang terintegrasi, maka pelaku fintech pendanaan bisa meningkatkan manajemen risiko seperti mencegah potensi tingginya rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Sebelum memberikan pinjaman, pelaku fintech bisa memverifikasi data calon borrower di FDC.

"Contohnya, dengan adanya FDC kita bisa melihat ada satu debitur yang dia sudah mengalami pembiayaan yang bermasalah di satu paltform. Tentunya ini bisa menjadi menghindari platform lain untuk melakukan pembiayaan terhadap debitur tersebut," ucap CEO Investree itu.

FDC ini menjadi alat utama untuk AFPI memastikan industri fintech pendanaan berjalan dengan sehat. Pasalnya, FDC ini bisa mengidentifikasi calon borrower apakah dia memiliki histori pinjaman macet.

Selain itu, kata Gunadi, FDC juga bisa mengidentifikasi potensi fraud seperti calon borrower nakal yang mencuri atau memakai identitas orang lain untuk mendapatkan pinjaman.

Jenis data yang bisa diakses seperti Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), KTP, dan kolektibilitas kredit. Dalam pengembangannya, FDC juga dapat diintegrasikan ke data milik perbankan atau Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) milik OJK.


Editor : Rahmat Fiansyah