Mendag Minta Produksi Garam Digenjot agar Impor Berkurang

Ferdi Rantung · Sabtu, 25 Juli 2020 - 15:48:00 WIB
Mendag Minta Produksi Garam Digenjot agar Impor Berkurang
Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto (tengah) didampingi Gubernur NTT, Viktor Laiskodat (kiri) saat meninjau panen di tambak garam di PT Timor Livestock di Nunkurus, Kabupaten Kupang, NTT. (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Industri garam nasional hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Akibatnya, defisit tersebut dipenuhi impor.

Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto mengatakan, garam merupakan salah satu komoditas yang dibutuhkan masyarakat mulai dari rumah tangga hingga industri. Bagi industri, garam digunakan sebagai bahan baku untuk pipa PVC, sabun, kosmetik, hingga tekstil.

Namun, kata Mendag, industri garam nasional menghadapi berbagai tantangan mulai dari produktivitas rendah hingga kualitas yang tak begitu baik.

"Namun saya melihat di sini potensi peningkatan produksi garam dengan kualitas di atas rata-rata. Jika kualitas ini dipertahankan, maka produksi garam NTT dapat mendorong penurunan impor garam untuk kebutuhan industri, maupun untuk diekspor,” ujar Mendag Agus lewat keterangan tertulis, Sabtu (25/7/2020).

Pernyataan itu disampaikan saat meninjau panen di tambak garam di PT Timor Livestock di Nunkurus, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dia mengatakan, produktivitas rata-rata lahan garam di Nunkurus adalah 100 ton per hektare (ha) untuk setiap siklus panen (sekitar 40-45 hari), lebih tinggi dari produktivitas rata-rata lahan garam lainnya yang berkisar 60—70 ton per ha.

"Kualitas garam yang dihasilkan juga termasuk cukup baik dengan NaCl minimal 97 persen," ucapnya.

Secara nasional, kata Mendag, produksi garam saat ini belum mencukupi kebutuhan nasional. Kebutuhan garam pada 2020 diperkirakan mencapai 4,4 juta ton terdiri atas industri 3,74 juta ton, rumah tangga 321.000 ton, dan lainnya 398.000 ton.

Sedangkan produksi garam pada tahun ini diperkirakan sebesar 2,5 juta ton sehingga belum mampu mencukupi kebutuhan garam di dalam negeri.

Menurut Mendag, rendahnya produktivitas garam di dalam negeri disebabkan produksi yang rentan terganggu cuaca, lahan pegaraman yang tidak luas dan tidak terintegrasi, serta sistem pemanenan garam yang sederhana.

"Selain membuat jumlah produksi yang rendah, hal ini juga berdampak pada kualitas garam yang tidak seragam,” ucapnya.

Editor : Rahmat Fiansyah