Mengenal Flight Shaming, Tren Gerakan Malu Naik Pesawat yang Lahir di Swedia

Rahmat Fiansyah ยท Kamis, 05 September 2019 - 03:20 WIB
Mengenal Flight Shaming, Tren Gerakan Malu Naik Pesawat yang Lahir di Swedia

Kereta. (Foto: ilustrasi/AFP)

STOCKHOLM, iNews.id - Orang-orang Eropa kini punya tren baru: malu naik pesawat atau yang dikenal dengan sebutan flight shaming. Gerakan yang lahir di Eropa Utara, tepatnya Swedia itu kini mewabah di berbagai negara Benua Biru.

Dilansir The Independent, Kamis (5/9/2019), istilah flight shaming muncul di Swedia dengan nama flygskam pada akhir tahun lalu. Gerakan ini mendorong orang-orang untuk setop naik pesawat demi mengurangi emisi karbon.

Dipopulerkan Aktivis Cilik

Ide gerakan ini berasal dari atlet Olimpiade, Bjorn Ferry yang kemudian membesar setelah Greta Thunberg, aktivis lingkungan Swedia berusia 16 tahun mempopulerkan gerakan ini kepada masyarakat. Bak bola salju, para selebritis ternama Swedia ikut-ikutan dengan gerakan yang tengah hits tersebut.

Alih-Alih Pesawat, Kereta Lebih Baik

Kemunculan gerakan flygskam di Swedia ikut melahirkan konsep baru: tagskryt. Secara literal artinya kira-kira pamer naik kereta. Gerakan ini mendorong orang-orang untuk berpergian dengan kereta api ketimbang pesawat dengan mengunggah foto mereka naik kereta di media sosial. Jangan lupa, unggahan foto tersebut diberi hashtag #tagskryt.

Menyebar ke Eropa

Di Swedia, gerakan ini berdampak signifikan karena mulai banyak orang yang naik kereta api. Tren naik kereta di negara Skandinavia itu sebenarnya sudah terjadi dalam dua tahun terakhir, sehingga gerakan ini seperti mendapatkan momentumnya. Sebaliknya, perjalanan udara di Swedia turun. Gerakan ini menyebar ke negara-negara di luar Swedia alias Eropa.

Maskapai Penerbangan Khawatir

Pesatnya gerakan ini mendapatkan perhatian yang serius bagi kelompok lobi industri penerbangan, International Air Transport Association (IATA). Dalam annual meeting di Seoul, isu flygskam menjadi salah satu bahasan utama.

"Tanpa perlawanan, sentimen ini bisa cepat berkembang dan meluas," kata Alexandre de Juniac, Head of IATA.

Cemari Lingkungan

Penerbangan komersial diklaim menyumbang 2,5 persen emisi karbon global. Angka ini berpotensi meningkat seiring pertumbuhan perjalanan udara. Meski begitu, IATA menyebut jejak karbon dari pesawat terus turun 1-2 persen setiap tahun karena mesin pesawat mengarah pada single-engine dan bentuk bodi pesawat semakin ringan. IATA menargetkan emisi karbon dari pesawat bisa 0 persen pada 2020 dan secara net akan netral pada 2050.


Editor : Rahmat Fiansyah