Pabrik Smelter Feronikel di Sultra Senilai Rp14 Triliun Mulai Dibangun

Rahmat Fiansyah ยท Minggu, 16 Juni 2019 - 11:04 WIB
Pabrik Smelter Feronikel di Sultra Senilai Rp14 Triliun Mulai Dibangun

Groundbreaking pabrik feronikel PT Ceria Nugraha Indotama di Kolaka, Sulawesi Tenggara. (Foto: Humas ESDM)

JAKARTA, iNews.id - PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) resmi memulai pembangunan fasilitas pemurnian (smelter) feronikel di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Pabrik itu nantinya memiliki kapasitas produksi 230 ribu ton.

Prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) pabrik itu dihadiri oleh Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar, Menteri PANRB Syafruddin, Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi, dan Bupati Kolaka Ahmad Syafei.

Arcandra menyambut baik keputusan CNI membangun smelter feronikel di Indonesia. SDA memiliki peran penting dalam pembangunan nasional dengan prinsip yang tertuang dalam pasal 33 UUD 1945.

Dia menafsirkan pasal tentang dikuasainya SDA oleh negara yaitu dikelola oleh putra putri terbaik bangsa, menggunakan teknologi yang dikembangkan bangsa Indonesia, pendanaan dari dalam negeri, dan hasil pengelolaan SDA dioptimalkan untuk kebutuhan domestik.

"Sesuai dengan amanat undang-undang, kita ingin agar nikel ini dapat kita olah dan memperpanjang rantai pengolahannya sehingga bisa menghasilkan nilai tambah," kata Arcandra lewat keterangan tertulis, Minggu (16/6/2019).

Dia mengatakan, pembangunan smelter ini merupakan wujud konkret atas implementasi UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Minerba. Ruh utama dari aturan itu yaitu meningkatkan nilai tambah mineral mentah yang ada di dalam negeri.

Direktur Utama PT CNI, Derian Sakmiwata mengatakan, pabrik ini ditargetkan bisa selesai dan beroperasi sekitar 2,5 tahun lagi. Pembangunan tersebut mencakup infrastruktur utama dan pendukung smelter.

"Smelter ferronikel ini ditargetkan selesai pada Desember tahun 2021 dengan total nilai investasi sebesar Rp14,4 triliun," ujar dia.

Pembangunan smelter ini akan diawasi pemerintah setiap 6 bulan sekali untuk diukur level kemajuannya. Pabrik smelter ini dapat mengolah bijih nikel 5 juta ton menjadi 230 ribu ton per tahun dengan kadar nikel 22-24 persen. Kebutuhan listrik untuk smelter ini mencapai 350 MW.


Editor : Rahmat Fiansyah