Sempat Disetop, Menko Luhut: Ekspor Bijih Nikel Boleh Asal Sesuai Aturan

Rahmat Fiansyah ยท Kamis, 07 November 2019 - 22:56 WIB
Sempat Disetop, Menko Luhut: Ekspor Bijih Nikel Boleh Asal Sesuai Aturan

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan. (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah telah membuka sebagian izin ekspor bijih nikel setelah sempat dihentikan sementara sejak 31 Oktober lalu. Namun, izin ekspor yang dibuka hanya untuk para eksportir yang memenuhi aturan.

"Sekarang posisinya (ekspor biji nikel) sedang dirapatkan oleh Pak Bahlil (Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia), tetapi kira-kira jika semua sudah memenuhi ketentuan itu akan dilepas. Sebagian sudah selesai. Kira-kira begitu (sudah boleh ekspor)," kata Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan di kantornya, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Dia telah meminta Bahlil untuk mengevaluasi kebijakan larangan ekspor bijih nikel yang telah berlangsung dalam satu minggu terakhir. Pelarangan tersebut karena adanya indikasi lonjakan ekspor melebihi kuota yang berpotensi merusak lingkungan.

Eks perwira tinggi militer itu menambahkan, pemerintah telah menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menertibkan eksportir nikel yang nakal alias suka melanggar aturan. Dia mengaku telah mengantongi data-data perusahaan tersebut.

Lonjakan tersebut terjadi seiring rencana pemerintah melarang ekspor bijih nikel pada 1 Januari 2020. Saat ini, ekspor bijih nikel diperbolehkan bagi eksportir yang membangun fasilitas pengolahan (smelter) dan memproduksi nikel dengan kadar 1,7 persen. Namun, banyak yang melanggar aturan ini.

Luhut mengatakan, pemerintah tetap memberlakukan pelarangan ekspor bijih nikel pada awal tahun depan. Dia telah melapor kepada Presien Jokowi soal kemajuan hilirisasi tambang.

“Saya sudah lapor Presiden tadi ada sekitar 3-4 pemain nikel yang sudah punya turunan sampai bawah, tadi kita rapat buat evaluasi supaya bisa terintegrasi antara satu bahan misalnya nikel dengan copper concentrate, sehingga punya nilai tambah yang makin banyak buat negeri kita. Karena misalnya begini, Freeport itu kita temukan turunannya itu, turunan daripada copper concentrate itu bisa 10-15 kali nilai tambah," tuturnya.


Editor : Rahmat Fiansyah