Startegi Kementan Cegah Gagal Panen Hadapi La Nina

Anggie Ariesta ยท Senin, 20 September 2021 - 15:19:00 WIB
Startegi Kementan Cegah Gagal Panen Hadapi La Nina
Kementan menyiapkan sejumlah strategi cegah gagal panen hadapi La Nina. (Foto: Ilustrasi/Ist)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengantisipasi dampak La Nina yang menyebabkan musim hujan datang lebih awal dan curah hujan lebih tinggi terhadap pertanaman padi sebagai upaya dalam mencegah gagal panen.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi mengatakan, Kementan telah menyiapakn antisipasi jangka pendek dan jangka menengah terhadap curah hujan tinggi yang bisa menyebabkan banjir.

"Antisipasinya mapping wilayah rawan banjir, menyiapkan early warning system, dan secara rutin memantau informasi iklim dari BMKG, penyiapan gerakan Brigade La Nina," kata dia dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR, Jakarta, Senin (20/9/2021).

Selain itu, Kementan juga menyediakan bantuan benih gratis yang bisa ditanam maksimal 20 hari setelah selesai banjir, penyiapan pompanisasi in-out dari sawah dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier atau kuarter.

Harvick menambahkan, Kementan juga gencar menyosialisasikan penggunaan varietas benih padi tahan genangan seperti Inpari 1 sampai 10, Inpari 29, Inpari 30, Ciherang Sub 1, Inpari 42 Agritan, dan varietas unggul lokal sejenisnya. Hal ini dilakukan agar tanaman padi masih bisa tetap berproduksi maksimal meskipun dampak La Nina di Indonesia terjadi pada akhir tahun ini.

Langkah antisipasi lainnya, dengan melakukan sosisliasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan penggunaan bantuan benih, serta penyiapan optimalisasi pascapanen dengan menggunakan mesin pengering serta mesin penggilingan padi modern.

Untuk langkah antisipasi jangka menengah atau permanen, Harvick menjelaskan, Kementan melakukan pembangunan atau rehabilitasi saluran irigasi tersier dan kuarter, pembangunan atau rehabilitasi sarana penampungan air, seperti embung dan sarana distribusi air lainnya, serta penguatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), awal musim hujan diperkirakan mulai terjadi pada September di Sumatera bagian tengah hingga selatan dan Kalimantan bagian tengah. Namun sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami awal musim hujan pada Oktober, yaitu sebagian Sumatera, sebagian Kalimantan.

Selain itu, sebagian Sulawesi, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, Maluku Utara, dan Papua bagian tengah. Sedangkan masa puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2022, yang sebagian besar terjadi di seluruh wilayah Indonesia. 

Editor : Jujuk Ernawati

Bagikan Artikel: