Studi: Orang Kaya Lebih Pelit Dibanding Orang Miskin

Rahmat Fiansyah ยท Minggu, 01 Juli 2018 - 20:11 WIB
Studi: Orang Kaya Lebih Pelit Dibanding Orang Miskin

ilustrasi. (Foto: Ant)

NEW YORK, iNews.id – Riset terbaru menunjukkan orang-orang yang mempunyai banyak uang lebih enggan membagikan kekayaannya dibandingkan mereka yang memiliki uang lebih sedikit.

Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan penelitian terbaru dari Queen Mary University of London yang dipublikasikan dalam Journal Basic and Applied Social Psychology. Sejumlah peneliti melakukan eksperimen sosial dimana partisipan diajak bermain dengan uang sungguhan.

Orang-orang tersebut dibagi menjadi dua kategori yaitu “menengah ke bawah” atau “menengah ke atas”. Status ini ditentukan berdasarkan besaran uang yang diberikan di awal untuk menunjukkan tingkat kekayaan.

Permainan ini mengharuskan partisipan menentukan berapa banyak uang yang ingin mereka simpan dan berapa banyak yang ingin disumbangkan ke dalam kelompok.

Penentuan kekayaan ini ditentukan secara bergantian. Kadang ditentukan berdasarkan keberuntungan. Kadang ditentukan berdasarkan usaha si partisipan.

Hasil penelitian itu menunjukkan partisipan yang masuk dalam kategori “menengah ke bawah” memberikan uangnya lebih banyak daripada mereka yang menyandang stasus “menengah ke atas”. Bahkan, mereka yang mempunyai banyak yang ini lebih pelit ketika memperoleh uang dari keberuntungan.

“Bagi individu yang memiliki status menengah ke atas, cara mereka memperoleh kekayaan, apakah itu dari keberuntungan atau usaha sendiri, menjadi faktor yang menentukan berapa banyak pemberiannya,” kata Magda Osma, Profesor Queen Mary’s School of Biological and Chemical Sciences, dikutip dari Business Insider, Minggu (1/7/2018).

“Hal ini berbeda dengan individu menengah ke bawah. Bagaimana cara mereka memperoleh kekayaan, tidak mengubah perilaku mereka dalam bermain,” katanya.

Menurut Magda, jika seseorang memperoleh status sebagai orang kaya dari usaha sendiri daripada keberuntungan, maka seseorang akan lebih ingin menjaga uang yang diperoleh. Namun, ketika kekayaan seseorang itu terbatas, maka hal itu menjadi insentif baginya untuk memberi.

“Poinnya di sini yaitu jika seseorang bertindak untuk menyumbang, sebenarnya tidak ada satupun yang berpikir melakukannya dengan alasan altruistik. Seseorang berharap dengan menyumbang lebih banyak, maka yang lain juga, dan tentu saja akan mendapat keuntungan dari itu,” kata Magda.

Dengan demikian, tidak ada jaminan partisipan dalam permainan tersebut yang melakukan praktik serupa. Dengan kata lain, seseorang yang menyandang status “menengah ke bawah” mengambil risiko terbesar dengan menyumbang lebih banyak karena tidak tahu apakah partisipan yang lain akan melakukan hal serupa.

Selain itu, Magda juga menyebut, temuan lain yang mengejutkan yaitu perilaku prososial dengan menyumbang uang ke sebuah kelompok tidak ada hubungannya dengan empati.

“Banyak klaim di luar sana yang menyebut, empati menjadi perekat yang menyatukan orang-orang untuk bertindak secara sosial. Apa yang kami tunjukkan adalah ketika menyangkut uang, tidak ada peran empati dalam meningkatkan perilaku prososial,” ujarnya.


Editor : Rahmat Fiansyah

TAG : uang