Banyak Sentimen Negatif, Wall Street Anjlok di Akhir Pekan

Rahmat Fiansyah ยท Sabtu, 08 Desember 2018 - 10:32 WIB
Banyak Sentimen Negatif, Wall Street Anjlok di Akhir Pekan

ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

NEW YORK, iNews.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) turun tajam pada sesi perdagangan akhir pekan, Jumat (7/12/2018). Pelaku pasar merespons negatif data ekonomi terbaru AS dan ketidakjelasan perang dagang.

Dilansir CNBC, indeks Dow Jones industrial average turun 558,72 poin ke 24.388,95. Penurunan tersebut menghapus kenaikan sepanjang tahun ini. Indeks Dow sempat naik delapan persen tahun ini.

Indeks S&P 500 melemah 2,3 persen ke 2.633,08 sehingga membuatnya ke area negatif. Nasdaq Komposit juga turun 3,05 persen ke 6.969,25 poin setelah saham-saham teknologi berguguran, seperti Facebook, Apple, Amazon, Netflix, dan Google.

Selama sepekan, ketiga indeks ini turun lebih dari 4 persen. Sejumlah isu negatif melingkupi Wall Street, terutama memanasnya hubungan AS dengan China seperti perang dagang dan peretasan teknologi.

Selain data ekonomi AS yang terbaru soal lapangan pekerjaan di bawah ekspektasi. Sepanjang November 2018, lapangan pekerjaan tercipta 155.000, lebih rendah dari ekspektasi 198.000.

"Laporan itu cukup solid, tidak terlalu bagus, tapi masih cukup (untuk tren kenaikan suku bunga) ada di jalurnya. Namun, gejolak masih tetap ada karena investor tidak yakin seberapa besar ekonomi akan melambat dan kekhawatiran soal hubungan dagang AS-China," kata Kate Warne, Investment Strategist di Edward Jones.

Hubungan dua negara memanas setelah Direktur Keuangan Huawei ditangkap saat masuk ke AS. Padahal, pada minggu sebelumnya Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping sepakat untuk gencatan senjata perang dagang.

"Kita sedang bergerak dari masa-masa orang tidak tidak sensitif menuju masa-masa orang sangat sensitif akan berita. Kita sedang berada di dunia di mana kapan ini akan naik dan kapan akan turun," kata Manajer Investasi Senior Aberdeen Standard Investments, James Athey.

Selain perang dagang, investor juga khawatir dengan perlambatan ekonomi AS. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 3 tahun berada di atas tenor 5 tahun, yang menjadi penanda pembalikan imbal hasil (inversion yield). Secara historis, saat imbal hasil bertenor pendek bergerak di atas tenor panjang menandakan resesi akan datang sebentar lagi. 


Editor : Rahmat Fiansyah