Dapat Peringatan Keras dari Bank Sentral, Binance Segera Hentikan Layanan di Singapura

Jeanny Aipassa ยท Senin, 06 September 2021 - 07:00:00 WIB
Dapat Peringatan Keras dari Bank Sentral, Binance Segera Hentikan Layanan di Singapura
Otoritas Moneter Singapura melarang layanan Bonance di negara itu. (Foto: Reuters)

SINGAPURA, iNews.id - Binance akan menghentikan layanan pertukaran kripto, Binance.com di Singapura, setelah mendapat peringatan keras dari bank sentral negara itu. 

Otoritas Moneter Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS), telah memerintahkan Binance untuk berheti menyediakan layanan Binance.com di negara itu, dan menjalin bisnis dengan penduduk Singapura karena tidak memiliki lisensi resmi. 

Binance adalah operator Binance.com dan pertukaran mata uang kripto terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan. Perseroan mengklaim memiliki volume perdagangan harian rata-rata sebesar 2 miliar dolar Amerika Serikat ataun setara Rp28,503 triliun dan mengeksekusi sebanyak 1,4 juta transaksi per detik. Binance juga mengeluarkan mata uang kripto Binance Coin, yang diperdagangkan dengan simbol BNB.

Meski tidak memiliki kantor pusat secara fisik, Binance telah hadir sebagai layanan online di beberapa negara, sejak didirikan oleh Zhao Changpeng, keturunan China-Kanada, pada 2017. 

Di Singapiura, Binance terdaftar dengan entitas Binance Asia Services, yang mengoperasikan Binance.sg. Perusahaan ini, menawarkan perdagangan sejumlah mata uang kripto terkenal, seperti Bitcoin, Ethereum, dan Binance Coin. Perusahaan ini juga menyediakan setoran dan penarikan dolar Singapura melalui platform pembayaran Xfers Direct.

Namun dengan keluarnya peringatan dari MAS pada Jumat (3/9/2021), membuat Binance Asia Services tak lagi memegang lisensi untuk penyediaan layanan token pembayaran digital. 

Binance Singapore, yang beroperasi di bawah Binance Asia Services, menyatakan larangan MAS terhadap Binance “tidak berdampak langsung” pada layanan yang disediakannya.

“Binance Singapore (Binance.sg) adalah badan hukum terpisah dari Binance.com, dengan tim eksekutif dan manajemen lokalnya sendiri dan tidak menawarkan produk atau layanan apa pun melalui situs web Binance.com atau entitas terkait lainnya, dan sebaliknya," bunyi pernyataan manajemen Binance, seperti dikutip The Straits Times, Minggu (5/9/2021). 

Namun, MAS mengatakan mengharapkan Binance Asia Services untuk segera memulai penangguhan dari fasilitasi transfer aset token pembayaran digital antara perusahaan dan perusahaan induknya Binance.

Ini berarti pengguna di Singapura dalam waktu dekat tidak dapat lagi mentransfer dana antaraakun mereka di Binance.com dan Binance.sg, seperti yang sudah terjadi di Hong Kong dan Inggris.

Langkah Singapura yang melarang layanan Binance, menambah panjang daftar negara-negara yang telah memboikot layanan pertukaran kripto terbesar di dunia tersebut. 

Berikut daftar negara-negara yang telah melarang layanan dan operasional Binance:

1. Jerman

Pada April 2021, regulator keuangan Jerman, BaFin, memperingatkan Binance karena telah melanggar aturan sekuritas atas peluncuran perdagangan token saham denngan tidak menerbitkan prospektus investor terlebih dulu.

2. Amerika Serikat 

Pada Mei 2021, Binance diselidiki oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat dan Layanan Pendapatan Internal atas kekhawatiran bahwa mata uang kripto digunakan untuk menyembunyikan transaksi ilegal, termasuk pencurian dan transaksi narkoba, dan bahwa orang Amerika yang telah membuat rejeki nomplok bertaruh pada kenaikan pasar yang meroket sedang menghindari pajak.

3. Inggris

Pada Juni 2021, otoritas keuangan Inggris melarang Binance cabang Inggris, Binance Markets, melakukan bisnis di negara itu karena dikhawatirlan menjadi wadah untuk pencucian uang dan kejahatan keuangan lainnya, termasuk pembiayaan teroris. 

4. India 

Masih di Juni 2021, Otoritas India melarang layanan Binance dan melakukan penyelidikan terkait dugaan perusahaan itu menjadi agen pencucian uang India, dan pelanggaran peraturan valuta asing.

5. Jepang

Badan Layanan Keuangan Jepang memperingatkan Binance agar tidak menawarkan layanan di negara tersebut tanpa izin, pada Juni 2021.

6. Hong Kong

Pada Juli 2021, Komisi Sekuritas dan Berjangka Hong Kong, menyatakan Binance tidak memiliki lisensi atau terdaftar untuk menawarkan sekuritas. Binance kemudian mengatakan akan membatasi pengguna Hong Kong dari memperdagangkan produk turunan.

7. Thailand

Komisi Sekuritas dan Bursa Thailand telah mengajukan pengaduan pidana terhadap Binance karena mengoperasikan bisnis aset digital tanpa lisensi,

8. Malaysia 

Ototitas keuangan Malaysia telah memerintahkan Binance untuk menonaktifkan pertukaran utamanya, Binance.com, dan aplikasi seluler di negara tersebut.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel: