Dekati Fintech, BPR Siap Bertransformasi Digital

Rina Anggraeni ยท Kamis, 30 Juli 2020 - 13:07 WIB
Dekati Fintech, BPR Siap Bertransformasi Digital

Penerapan transformasi industri 4.0 ini membuat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) terus mengembangkan transaksi berbasis digital. (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Penerapan transformasi industri 4.0 ini membuat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) terus mengembangkan transaksi berbasis digital. Pasalnya, penerapan digitalisasi sangat memungkinkan bagi BPR BUKU III karena aset dan modalnya sudah mumpuni.

Sedangkan, BPR BUKU I dan II belum bisa menerapkan digitalisasi karena modal anggaran yang tidak mencukupi. Ketua Umum Persatuan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto mengatakan, industri teknologi finansial (fintech) menyiapkan transformasi layanan digital dengan mulai mengimplementasikan sistem pembayaran nontunai (cashless).  Adanya kerja sama ini membuat BPR yang masih di BUKU I dan II ini tidak perlu mengeluarkan anggaran yang banyak.

"Solusinya itu berkolaborasi itu penting jadi enggak ada keluar capex (capital expenditure). Jadi enggak menekan dari sisi permodalan serta tidak menutup kemungkinan dengan fintech bagaimana kolaborasi ini menguntungkan kita dan masyarakat. Kita selalu welcome dan melakukan pembicaraan kolaborasi dengan fintech jadi lebih efisien," ujar Joko dalam diskusi bersama IDX Channel, Jakarta, Kamis (30/7/2020).

Dia melanjutkan, revolusi digital mengubah cara pandang dalam melakukan aktivitas ekonomi di berbagai belahan dunia seperti penggunaan e-commerce yang masif. Hal ini telah melahirkan model-model bisnis baru di antaranya berupa layanan peer-to-peer lending dan sharing economy.

Melihat kenyataan tersebut, Industri BPR harus berinovasi dan adaptif terhadap perkembangan teknologi yang ada. "Secara prinsip BPR di Indonesia melayani publik dari 4.0 teknologi adalah sebuah keharusan pelayanan publik dan di industri BPR ini sangat dinamis dan menyesuaikan era digital dan menyesuaikan demand market kepada masyarakat dan industri perbankan," tuturnya. 

Dia menyatakan, revolusi digital adalah melakukan strategic partnership dan kolaborasi. Tentunya dengan model bisnis yang saling melengkapi, menguntungkan dan mendorong tumbuh bersama. Dengan begitu, dampak akhirnya, masyarakat yang dilayani lebih mudah, cepat dan aman.

" Kita ingin membantu Indonesia agar bisa menjadi negara yang menerapkan digitalisasinya tertinggi di Asean pada tahun 2025," tuturnya. 

Editor : Ranto Rajagukguk