Ekonom Nilai Pernyataan BPK soal Nama 7 Bank Bisa Timbulkan Persepsi Negatif

Antara ยท Sabtu, 16 Mei 2020 - 08:19 WIB
Ekonom Nilai Pernyataan BPK soal Nama 7 Bank Bisa Timbulkan Persepsi Negatif

Dalam pengawasan perbankan, adanya penyebutan nama-nama bank secara langsung bisa menimbulkan risiko persepsi keliru di masyarakat. (Foto: Small Business)

JAKARTA, iNews.id - Sejumlah ekonom menyayangkan pernyataan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai nama tujuh bank yang dinilai kurang diawasi dengan baik Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ini dikhawatirkan bisa menimbulkan persepsi negatif di masyarakat, apalagi di tengah masa pandemi virus corona (Covid-19).

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, pengawasan terhadap institusi negara termasuk OJK sudah menjadi tugas BPK dan merupakan hal baik sebagai mekanisme pengawasan, supaya lembaga negara melaksanakan tugasnya secara optimal.

Namun, Eko menilai BPK seharusnya lebih hati-hati dalam menyampaikan hasil temuannya sehingga tidak memberikan keresahan di masyarakat.

"Dalam konteks pengawasan ke perbankan, adanya penyebutan nama-nama bank secara langsung memang bisa menimbulkan risiko persepsi keliru di masyarakat," ujar Eko.

Dia mempertanyakan apakah proses-proses klarifikasi ini telah dilakukan dan kemudian lembaga yang diawasi seperti OJK, tidak memberikan jawaban secara memadai, atau belum dilakukan proses klarifikasi.

"Klarifikasi untuk sektor perbankan yang sifatnya highly regulated sangat penting. Meskipun setahu saya tidak ada larangan nama individual bank disebutkan," katanya.

Sementara itu, ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana menilai adanya temuan BPK mengenai tujuh bank yang kurang diawasi kurang baik OJK, tentu memiliki dampak tersendiri bagi bank yang disebut namanya.

"Tentu ada implikasi terhadap bank yang namanya disebut. Perilaku nasabah Indonesia secara umum menghindari risiko. Tapi, saya pikir akan lebih seimbang apabila saat itu BPK juga menyuarakan rekomendasi penyelesaiannya atas temuannya itu. Pun itu tentang temuan atas suatu kinerja di masa lalu," ujar Wisnu.

Dia menuturkan kondisi perbankan Indonesia saat ini masih cukup aman dan belum krisis. Berdasarkan data OJK, stabilitas sektor jasa keuangan masih cukup terjaga, yang tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) industri perbankan yang masih cukup tinggi, yaitu sebesar 21,72 persen per Maret 2020. Sementara untuk risiko kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perbankan juga masih terjaga pada level 2,77 persen.

Editor : Dani Dahwilani