OJK Berkomitmen Cegah Krisis Covid-19 Menjalar ke Sektor Keuangan

Suparjo Ramalan ยท Sabtu, 20 Juni 2020 - 18:45 WIB
OJK Berkomitmen Cegah Krisis Covid-19 Menjalar ke Sektor Keuangan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso. (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengurangi kerugian ekonomi Indonesia akibat pandemi Covid-19. Sesuai perannya, OJK akan menstabilkan sektor jasa keuangan seperti perbankan, pasar modal, dan sektor jasa keuangan lainnya.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso memastikan, krisis Covid-19 tidak akan menjalar menjadi krisis lain. OJK akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan pemangku kepentingan lain.

"Insyaallah aman, krisis pandemi ini tidak akan menjadi krisis keuangan karena kita mitigate dengan kebijakan-kebijakan yang terukur, transparan, dan mudah diimplementasikan," katanya saat mengisi webinar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Sabtu (20/6/2020).

Wimboh mengatakan, di awal kemunculannya, Covid-19 langsung direspons negatif oleh investor. Mereka menilai pandemi tersebut berdampak pada kinerja perusahaan, terutama yang memiliki utang tinggi.

"Ini menyebabkan investor outflow terjadi walau sektor riil masih oke tapi sentimen negatif sudah muncul di seluruh dunia. Akhirnya, para investor menjual sahamnya dan dialihkan ke emas,” ujar Wimboh.

Situasi ini, kata dia, tercermin dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Maret lalu. Bahkan, transaksi sempat dihentikan sementara (trading halt) selama 30 menit hingga dua kali dalam sehari.

Guru Besar Tidak Tetap bidang Ilmu Manajemen Resiko FEB UNS itu mengatakan, OJK bersama BEI sepakat untuk menerapkan trading halt bila IHSG anjlok 5 persen atau lebih. Selain itu, penurunan harga tiap saham dibatasi maksimal 7 persen per hari.

"Paling parah dampakya di bulan Maret IHSG kita yang biasanya di atas 6.000 menjadi di bawah 4.500 karena sentimen negatif di pasar modal sehingga dampak ini yang pertama kita rasakan. Kalau kondisi normal saham akan disetop perdagangannya di level 7 persen tapi kita mengambil kebijakan auto rejection 5 persen agar penurunan tidak begitu cepat," tuturnya.

Tak hanya pasar modal, OJK juga menerapkan kebijakan relaksasi kredit bagi nasabah yang terdampak Covid-19. Insentif diberikan dalam bentuk penundaan cicilan, baik pokok maupun bunga.

"Dibayar kalau perusahaannya sudah recover dengan penundaan paling lama 1 tahun. Dalam skema restrukturisasi sementara tidak perlu menyisihkan modalnya untuk menutup kerugian. Yang bisa direstrukturisasi adalah perusahaan yang sebelumnya tidak bermasalah," ujarnya.

Editor : Rahmat Fiansyah